Dalam sesi bedah buku, tampil dua orang narasumber yakni Ketua Tim Penyusun Buku Mitos vs Fakta Sawit, Dr. Tungkot Sipayung, dan Direktur Institute for Foods and Agricultural Development Studies, Dr. Iskandar Andi Nuhung. Dua penanggapnya yakni Guru Besar Agribisnis UIN Jakarta, Prof. Dr. Siti Rochaeni, dan Guru Besar Program Studi Biologi, Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri.
Tungkot Sipayung dalam pemaparannya menuturkan, dulu Indonesia kaya akan rempah-rempah. Namun, hampir semua rempah tersebut hilang dan yang tersisa hanya jejaknya. Berbeda dengan sawit yang masih terus bertahan hingga hari ini. Karena hanya di tanah Indonesia sawit bisa tumbuh dengan subur.
"Indonesia adalah raja minyak sawit dunia. Sawit adalah salah satu sumber pangan dan energi. Siapa yang menguasai pangan, dia menguasai manusia dan siapa yang menguasai energi, dia menguasai bangsa," tukasnya.
Lebih dalam Tungkot menguraikan 19 mitos yang tidak tepat terkait industri kelapa sawit. Adapun mitos tersebut dapat diklasifikasikan dalam empat tema besar antara lain mitos industri kelapa sawit di sektor ekonomi, sosial, lingkungan dan kesehatan.
Di sektor ekonomi, dia membantah tuduhan yang menyatakan bahwa kontribusi minyak sawit dalam pangan global tidak signifikan. Di sektor sosial, mitos tentang industri sawit tidak berperan dalam penurunan tingkat pengangguran dunia. Sementara di sektor lingkungan dan kesehatan masing-masing antara lain terkait mitos minyak sawit yang menyebabkan konflik agraria dan mitos tentang minyak sawit yang memicu kanker.
Sementara itu, Iskandar Andi Nuhung memaparkan pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh kelapa sawit termasuk konsumsi minyak goreng dalam negeri selama rentang waktu 10 tahun terakhir.
Sedangkan, Siti Rochaeni menyoroti isu sosial dalam hubungannya dengan kelapa sawit. Menurut Siti, terdapat ketimpangan antara perluasan lahan perusahaan sawit yang dimiliki swasta dan perkebunan rakyat. Sebanyak 88 persen industri sawit swasta telah tersertifikasi, sementara perkebunan rakyat lebih sedikit bahkan tidak sampai setengahnya.
"Pada 2007-2023 kita dapat melihat bahwa pemerintah justru hanya pro pada perusahaan raksasa. Namun, tidak berpihak pada perkebunan rakyat," tandasnya.
Penanggap terakhir, Lily Surayya Eka Putri, mempersoalkan tentang industri kelapa sawit dan lingkungan termasuk biodiesel, pengolahan limbah, global warming dan sumber daya air.
Mitos dan Fakta Seputar Industri Sawit Dibongkar di UIN Jakarta
Diskusi pembaca untuk berita ini