Menurut Sudirman, meski biaya produksi HVO lebih tinggi, bahan bakar tersebut memiliki karakteristik yang lebih mendekati solar fosil sehingga dinilai lebih aman untuk menjaga performa dan umur pakai mesin.
“HVO memiliki sifat higroskopis yang sangat rendah atau hampir tidak menyerap air,” katanya.
Ia menjelaskan, FAME diproduksi melalui proses transesterifikasi yang masih menyisakan kandungan oksigen, sedangkan HVO dibuat melalui proses hidrogenasi yang menghasilkan hidrokarbon murni dengan karakteristik setara solar fosil.
Dengan karakteristik tersebut, HVO dinilai dapat menjadi opsi untuk mendukung penggunaan energi terbarukan tanpa mengorbankan keandalan alat berat, khususnya pada sektor pertambangan yang membutuhkan mesin dengan daya tinggi dan operasi berkelanjutan.
PERHAPI Bongkar Efek Samping B50, Performa Alat Berat Tambang Bisa Menurun
Diskusi pembaca untuk berita ini