Depok, elaeis.co -- Ketika banyak sektor usaha masih dibayangi perlambatan ekonomi global, gejolak geopolitik, hingga ketidakpastian perdagangan internasional, Majalah Sawit Indonesia justru memilih bertaruh pada optimisme dalam menyelenggarakan agenda tahunan  Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 yang memasuki tahun ke-4.

Bukan hanya mempertahankan penyelenggaraan pameran tahunan tersebut, Majalah Sawit Indonesia bahkan menaikkan target penyelenggaraan tahun ini menjadi sekitar 200 exhibitor dan 8.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan di Pekanbaru Convention & Exhibition, Riau, pada 6–8 Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya dan menunjukkan bahwa industri sawit masih menyimpan daya tarik besar di tengah berbagai tantangan global.

Optimisme ini tidaklah berlebihan. Industri kelapa sawit telah berkali-kali membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi berbagai krisis. Mulai dari krisis moneter 1998, pandemi COVID-19, hingga dinamika pasar global beberapa tahun terakhir, sektor ini tetap menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar sekaligus penyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia.

"Sawit adalah industri yang memiliki daya tahan sangat kuat. Karena itu kami ingin SIEXPO 2026 menjadi ruang untuk menjawab tantangan sekaligus peluang industri sawit ke depan," ujar Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, selaku Ketua Pelaksana SIEXPO 2026,  dalam konferensi pers di Kantor Majalah Sawit Indonesia di Depok, Jumat, 26 Juni 2026.

Optimisme tersebut tercermin dari respon pelaku industri. Direktur Marketing Sawit Indonesia, Yasin Permana, mengatakan jumlah peserta pameran tahun ini meningkat tajam dibanding penyelenggaraan sebelumnya yang sekitar 150 exhibitor. "Tahun ini kami menargetkan sekitar 200 exhibitor yang akan membawa berbagai produk dan teknologi terbaru. SIEXPO menjadi tempat terbaik untuk melihat langsung inovasi yang sedang berkembang di industri sawit," ujarnya.

Menurut Yasin, hingga kemarin, sekitar 90 persen dari booth yang disiapkan telah terisi, yakni sebanyak 184 booth. Penyelenggara memperkirakan jumlah peserta akan mendekati 200 exhibitor, berasal dari perusahaan perkebunan, produsen benih, pupuk, pestisida, alat berat, drone, teknologi digital, biomassa, biofuel, hingga penyedia solusi berbasis artificial intelligence (AI). 

"Konsep yang kami tawarkan adalah one stop solution untuk industri sawit. Semua kebutuhan industri sawit, baik sektor hulu maupun hilir, dapat ditemukan dalam satu pameran," ujar Yasin. Ia optimistis target 8.000 pengunjung—meningkat 2.000 pengunjung di banding tahun lalu-- akan tercapai.

Bagi Qayuum Amri, ukuran keberhasilan SIEXPO 2026 yang mengusung tema "Kolaborasi, Inovasi, dan Resiliensi Industri Sawit" itu bukan sekadar banyaknya booth atau padatnya pengunjung. Yang jauh lebih penting adalah membangun kolaborasi seluruh ekosistem industri sawit. "Yang kecil kita angkat, yang menengah kita perkuat, dan yang besar kita dorong agar terus berkembang," ucapnya.

Menurutnya, industri sawit tidak akan tumbuh hanya mengandalkan korporasi besar. Ekosistem yang sehat harus melibatkan petani, koperasi, UMKM, perguruan tinggi, lembaga penelitian, asosiasi, pemerintah, hingga media. SIEXPO tahun ini melibatkan lebih  banyak lagi UMKM, koperasi petani, pesantren, dan perguruan tinggi.

Karena itu, penyelenggara kembali menyediakan 15–20 booth khusus bagi UMKM, koperasi, pesantren dan perguruan tinggi, tanpa biaya sewa. Langkah tersebut diharapkan memberi kesempatan khususnya kepada pelaku usaha kecil untuk memamerkan produk, memperluas jaringan, sekaligus bertemu langsung dengan calon pembeli maupun mitra usaha.

Dari pameran menuju arena transaksi

Qayuum menyebut, dalam tiga tahun terakhir banyak transaksi bisnis lahir justru setelah pelaku industri bertemu di arena pameran. Tahun lalu, misalnya, transaksi penjualan benih kelapa sawit dilaporkan mencapai sekitar 1 juta kecambah, dengan estimasi nilai sekitar Rp8–10 miliar. Selain itu, berbagai alat berat, truk angkut, pupuk, pestisida, hingga peralatan mekanisasi juga berhasil terjual selama penyelenggaraan pameran. 

Fakta tersebut menunjukkan bahwa pengunjung SIEXPO bukan sekadar datang untuk melihat-lihat. Sebagian besar sudah mengetahui teknologi atau produk yang mereka cari. Mereka datang, berdiskusi dengan produsen, membandingkan berbagai pilihan, kemudian melakukan transaksi ataupun menjalin kerja sama bisnis.

Penyelenggara memang memosisikan SIEXPO sebagai business matching platform, bukan sekadar pameran dagang. SIEXPO menghadirkan berbagai inovasi, mulai dari benih unggul, mekanisasi, drone, digitalisasi kebun, sistem manajemen berbasis data, hingga pemanfaatan AI dalam operasional perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Seluruh teknologi tersebut dipamerkan dalam satu tempat agar mudah diakses petani maupun perusahaan.

Menurut Qayuum, penyelenggaraan SIEXPO selama ini juga mampu menciptakan nilai ekonomi melalui transaksi bisnis yang terjadi selama maupun setelah pameran.  "Banyak peserta menyampaikan bahwa transaksi tidak hanya terjadi saat pameran berlangsung, tetapi juga berlanjut setelah acara selesai. Jadi SIEXPO bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi sarana mempertemukan peluang bisnis," katanya.

Ia menambahkan, pada penyelenggaraan sebelumnya, SIEXPO juga menarik perhatian pengunjung dari luar negeri, termasuk Singapura, Malaysia, dan sejumlah negara produsen sawit lainnya.

Melawan benih ilegal

Isu lain yang menjadi perhatian penyelenggara adalah masih maraknya penggunaan benih sawit ilegal. Untuk itu, SIEXPO memperbanyak partisipasi produsen benih resmi agar petani dapat memperoleh akses langsung terhadap benih unggul yang bersertifikat.

"Penggunaan benih ilegal dapat menyebabkan kerugian selama umur ekonomis tanaman yang bisa mencapai sekitar 25 tahun. Karena itu kami ingin petani bertemu langsung dengan produsen benih resmi," kata Qayuum.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan produktivitas kebun rakyat, yang selama ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari kualitas benih, pemupukan, hingga penerapan praktik budidaya yang baik.

Barometer industri sawit

SIEXPO 2026  juga menggelar konferensi selama tiga hari dengan menghadirkan sekitar 20 pembicara dari kalangan pemerintah, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha. Topik yang dibahas meliputi hilirisasi, teknologi rendah karbon, keberlanjutan, digitalisasi, mekanisasi, hingga penerapan kecerdasan buatan dalam industri sawit.

Seluruh seminar dapat diikuti secara gratis sebagai bagian dari upaya memperluas transfer pengetahuan kepada pelaku industri. SIEXPO tampaknya ingin melangkah lebih jauh daripada sekadar menjadi agenda tahunan. SIEXPO sedang membangun posisi sebagai barometer perkembangan teknologi, inovasi, dan kolaborasi industri sawit Indonesia.

Selain pameran dan konferensi, SIEXPO 2026 juga kembali menggelar field trip ke salah satu lokasi industri sawit, melanjutkan agenda serupa pada tahun sebelumnya. Lokasi kunjungan masih dalam tahap finalisasi.

Perhelatan ini mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan besar dan Lembaga, di antaranya PalmCo, Bumitama Gunajaya Agro, Triputra Agro Persada, Muar Ban Lee, PT JJ Lapp Cable Indonesia, PT Gaya Makmur FAW Motors, PT Hartec Mitra Mandiri, K+S Asia Pacific PTE Ltd, PT Sumber Inti Global Sukses, TSE Grup, BPDP, Pemerintah Provinsi Riau, serta berbagai asosiasi sawit seperti Apkasindo, GAPKI,  DMSI,APROBI GIMNI, Aspekpir, dan SAMADE.-