Bengkulu, elaeis.co - Hingga saat ini aktivitas ekspor crude palm kernel atau bungkil kelapa sawit dari Provinsi Bengkulu belum ada. Padahal sebelumnya produksi turunan sawit itu per tahunnya mencapai ratusan ribu ton dari daerah tersebut.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu, Ir Yenita Saiful mengatakan, belum adanya kegiatan ekspor bungkil karena tongkang pengangkut di Pelabuhan Pulau Baai minim.
"Permasalahannya dari para eksportir di Bengkulu yang masih kekurangan tongkang. Apalagi, tongkang pengangkut bungkil ini khusus, beda dengan komoditas lain," kata Yenita, kemarin.
Selain karena tongkang, Yenita juga mengaku bahwa minimnya kapal di Pelabuhan Pulau Baai juga menjadi penyebab macetnya aktivitas ekspor bungkil ke luar negeri.
"Beda dengan pelabuhan di Riau dan Lampung, dimana jumlah kapal untuk kegiatan ekspor cukup banyak. Kita tak mungkin ekspor kernel, tapi kapalnya tidak ada. Mau ekspor harus menunggu kapal datang dulu," kata dia.
Sementara, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bengkulu, drh Bukhari MM mengatakan, produksi bungkil asal Bengkulu setiap tahunnya mencapai ratusan ribu ton. Jumlah produksi terbanyak berasal dari Kabupaten Mukomuko mencapai 120 ribu ton per tahun.
Namun Bukhari mengaku ekspor komoditas ini masih terbilang kecil. Bahkan tahun ini tidak tercatat sama sekali ekpor bungkil melalui Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu.
"Untuk kernel sawit belum ada sama sekali dilakukan ekspor langsung dari Bengkulu," kata Bukhari.
Ekspor Bungkil Sawit di Pelabuhan Bengkulu Kosong, Pengusaha Kirim ke Luar Negeri Lewat Riau
Diskusi pembaca untuk berita ini