Bengkulu, elaeis.co - Petani di Provinsi Bengkulu cenderung lebih memilih jual kebun kelapa sawit yang sudah tidak produktif lagi dibanding mengikuti program replanting. Pasalnya, para petani menyadari lahan yang pernah ditanami sawit tidak subur lagi.

Fenomena ini dibenarkan oleh Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Rosmala Dewi.

Ia mengatakan, petani yang memiliki tanaman sawit berusia di atas 20 tahun lebih memilih tidak melakukan penanaman kembali, meskipun program peremajaan sawit rakyat (PSR) tersedia.

Menurutnya, petani menyadari risiko dari menanam sawit kembali di lahan yang sama dapat berdampak buruk pada pertumbuhan sawit dan produktivitas.

"Itu bisa jadi bencana bagi mereka. Kalau nekad menanam di lahan yang sama, maka risikonya, buah sawit tidak akan lebat," ujar Rosmala, kemarin.

Tak hanya itu, lanjutnya, faktor lain yang membuat petani lebih memilih jalan pintas karena dihadapkan dengan biaya yang tidak sedikit ketika melakukan replanting.

Penebangan tanaman sawit yang tidak produktif lagi dengan alat berat, membutuhkan biaya yant besar. Sebab, tanpa bantuan alat berat, penumbangan batang sawit akan sulit dilakukan.

"Biaya untuk menanam kembali juga tidak murah, bisa mencapai jutaan untuk satu hektare," jelasnya.