Di sisi lain, petani yang memutuskan untuk mengikuti program replanting hanya menerima Rp 30 juta per hektare. Hal ini menjadi masalah karena mayoritas petani di Bengkulu memiliki lahan lebih dari 4 hektare. Sementara program replanting hanya memperbolehkan maksimal 4 hektar.
Oleh karena itu, banyak petani yang lebih memilih untuk menjual kebun daripada melakukan replanting.
"Dengan menjual kebun, mereka tidak perlu repot lagi, apalagi dana dari program replanting tidak mencukupi untuk pemeliharaan sawit hingga berbuah. Tanah juga harus diberi nutrisi melalui pemupukan agar sawit dapat berbuah," ujarnya.
Gawat Banyak Petani di Bengkulu Lebih Memilih Jual Kebun Sawit Ketimbang Ikut Replanting
Diskusi pembaca untuk berita ini