Medan, elaeis.co - Generasi milenial menjadi penentu masa depan industri kelapa sawit Indonesia. Oleh karena itu, mengenalkan dan mendekatkan sawit kepada mereka menjadi sangat penting.

Terkait dengan hal itu, DPP Sawitku Masa Depanku (Samade) melakukan gerakan Aksi Peduli Sawit Itu Baik dan Berkelanjutan kepada generasi muda. Salah satu kelompok yang disasar adalah para mahasiswa.

Di Medan, Wakil Sekretaris DPP Samade, Muchtar Sinaga SP MM, memaparkan seluk beluk sawit di hadapan ratusan mahasiwa dan dosen Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen (faperta UHN) di sela inagurasi dan pembekalan mahasiswa baru TA 2022-2023 yang digelar di Porlak Simalingkar B.

Menurut Muchtar, kontribusi devisa dari ekspor sawit ke kas negera cukup signifikan. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), semester I-2020 devisa yang disumbang sawit mencapai US$10,06 miliar. Tahun ini, meski ada pandemi Covid-19, kontribusi ekspor sawit diperkirakan tak beda jauh dari perolehan 2019 atau sebesar US$20,2 miliar.

"Selain itu, ada 2,4 juta petani dan 2,6 pekerja yang bergantung dari bisnis ini. Ada pula ribuan produk berbahan baku sawit serta turunannya yang kita nikmati sehari-hari. Nah, teman-teman milenial harus sadar akan hal ini. Peranan kelompok milenial akan sangat penting dalam menentukan masa depan sawit," jelasnya Muchtar melalui siaran pers yang diterima elaeis.co.

Saat ini, lanjutnya, Samade terus melakukan sosialisasi kepada petani sawit dan gerakan pemberdayaan kelompok dalam menciptakan produk unggulan dari kelapa sawit melalui UMKM. Samade juga membantu petani sawit untuk menggenjot produktivitas sawit melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) serta berbagai program pelatihan untuk petani.

"Khusus PSR, pemerintah melalui dana BPDPKS  membantu petani Rp30 juta per hektare. Dengan Program PSR, kita ingin semua petani menggunakan bibit unggul dan mengelola kebun sesuai Good Agricultural Practices (GAP)," terangnya.  

Dia menambahkan, saat ini banyak beredar isu miring yang bertujuan untuk menjauhkan konsumen dari segala macam produk berbahan baku sawit. Padahal, motif di balik kampanye negatif itu sebenarnya ada perang dagang.