Samarinda, elaeis.co - Saat ini banyak program pemerintah untuk perkebunan kelapa sawit yang mengusung konsep online. Namun sayang tidak semua petani kelapa sawit paham mengenai sistem online tersebut.
Perihal itu disampaikan oleh Daru Widiyatmoko, Wakil Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesua (Apkasindo) Kalimantan Timur (Kaltim), saat berbincang bersama elaeis.co, Jumat (28/7).
Menurut Daru, petani kelapa sawit banyak yang belajar secara otodidak, khususnya dalam pemeliharaan kelapa sawit. Yakni dalam urusan memanen dan menjaga agar produksi kebunnya bagus.
Namun, jika sudah berbicara sistem online, kata Daru, kemungkinan hanya 10 persen saja petani yang paham dan mengerti. "Ujung-ujungnya minta tolong," katanya.
Sama halnya dengan program Babe-Bun yang melayani petani untuk mendapatkan benih unggul dan bersertifikat. Namun, Daru khawatir kebijakan ini justru tidak menyentuh petani kelapa sawit yang ada di pelosok desa.
"Ini kan mirip dengan program beasiswa BPDPKS, yang pendaftarannya secara online. Jadi banyak anak petani yang ada di pelosok justru tidak bisa ikut berjuang mendapatkan beasiswa itu," katanya.
Padahal, kata Daru, justru petani di pelosok desa itulah yang seharusnya mendapatkan kemudahan. Sebab benih unggul akan ikut mendukung produksi kebun kelapa sawit yang tentu berkaitan dengan ekonomi petani dan kemajuan daerah.
"Kalaupun petani paham, tentu jaringan provider juga menjadi kendala. Akhirnya yang menikmati adalah petani yang notabene berada di daerah perkotaan. Sehingga program tidak tepat sasaran," katanya.
"Untuk itu, kita minta pemerintah hadir langsung di tengah petani dengan sistem jemput bola sehingga benih unggul bersertifikat itu juga dapat dinikmati petani pedesaan," imbuhnya.
Terapkan Sistem Online, Apkasindo Kaltim Khawatir Babe-Bun Seperti Program Beasiswa BPDPKS
Diskusi pembaca untuk berita ini