"Selama ini angkong kan pakai tenaga manusia. Nah, dengan tenaga listrik, maka angkong ini bisa menghemat tenaga petani atau pekerja di kebun sawit," kata dia.

Angkong tersebut, sambung Lila, memiliki daya angkut sebanyak 100 sampai 160 kilogram (Kg) atau sekitar 6 sampai 10 TBS.

Lila menyebutkan, angkong listrik itu juga menyediakan tempat pijakan di bagian belakang bawah, sehingga proses pengangkutan TBS benar - benar minim tenaga manusia, tidak perlu menahan beban yang begitu berat.

Selain harus mengangkat gagang angkong yang berat, petani sawit juga harus menjaga agar angkong tersebut tidak oleng ke kiri maupun ke kanan. 

“Kalau dengan angkong ini, tinggal gas saja dan langsung jalan. Tak usah mengimbangi torsi dan nggak perlu menahan beban,” ujar Lila.

Ia mengungkapkan, rangka angkong menggunakan besi yang lebih ringan tapi lebih kuat, spare part juga dilakukan modifikasi. Misalnya motor untuk torsi. 

“Biasanya motor itu torsi kuat kecepatan rendah. Tapi angkong ini dengan bantuan kontrol yang kami buat sendiri, memungkinkan nanjak kuat dan kecepatannya juga tetap terjaga,” katanya.

Angkong ini juga lincah dalam berbelok, baik belok kiri maupun kanan dan sudah diujicobakan di kebun sawit percobaan milik Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta.