Jakarta, elaeis.co - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima mengungkapkan bahwa sudah seharusnya Indonesia memiliki indeks komoditas nasional dan sistem perdagangan yang efisien dan transparan. 

"Supaya Indonesia punya kesempatan mengontrol harga dan volume perdagangan untuk melindungi kepentingan nasional," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Komoditas dengan Ekonom Faisal Basri di Jakarta, Kamis (30/3).

'Hal itu sangat dibutuhkan agar posisi Indonesia akan menjadi lebih kuat sebagai price maker dunia yang juga bisa mengontrol volume serta harga komoditas tersebut sehingga dapat melindungi kepentingan nasional," katanya.

Dijelaskannya, sebagaimana diketahui Indonesia memiliki komoditas unggulan dalam jumlah besar yang sangat diminati pasar internasional seperti batubara, bauksit, timah, nikel, CPO, kakao, sawit, tembaga, tembakau, kopi teh dan lain-lain. 

"Namun Indonesia sebagai produsen bukanlah penentu harga komoditas tersebut, tetapi tergantung pada harga pasar dunia sehingga hasil ekspor tersebut tidak memberikan pendapatan yang maksimal," kata Aria, melalui website resmi DPR-RI 

Adapun indeks harga nikel timah Boxit selama ini, menurut Aria Bima, mengikuti indeks harga dari London Meta Exchange. Begitu pula dengan harga kakao dan kopi mengikuti indeks harga dari New York dan London. "Sementara itu CPO tembakau ditentukan oleh Rotterdam dan Malaysia," sebutnya. 

"Oleh karena itu, Komisi VI DPR RI membentuk Panja (Panitia Kerja) Komoditas. Panja inilah yang akan terus menggali, ingin mendapatkan masukan dari para pakar dan berbagai elemen lainnya," tambah Aria Bima.