Pemerintah juga masih menghitung kebutuhan volume biodiesel dengan mempertimbangkan proyeksi kenaikan konsumsi energi menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kesiapan pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) pun terus dipastikan agar distribusi energi tetap terjaga.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengungkapkan uji jalan B50 telah dilakukan sejak April 2026. Hasil pengujian menunjukkan kualitas bahan bakar B100 yang digunakan sebagai campuran B50 telah memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Selain itu, pengujian konsumsi bahan bakar memperlihatkan performa kendaraan tetap stabil dengan tingkat konsumsi yang masih berada dalam rentang standar yang ditetapkan pabrikan.
“Parameter emisi karbon monoksida dan opasitas juga masih berada pada batas yang ditentukan,” kata Dwi.
Ia berharap pelaku industri mendukung implementasi program tersebut, termasuk dalam hal penyediaan bahan baku serta infrastruktur pencampuran atau blending yang menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas B50.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk mendukung penggunaan bahan bakar nabati sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan impor BBM, sekaligus menekan emisi karbon menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Implementasi B50 diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Kementerian ESDM memperkirakan program tersebut mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun serta meningkatkan nilai tambah industri minyak sawit mentah (CPO) menjadi Rp24,68 triliun.
Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja yang terserap diperkirakan meningkat menjadi sekitar 2,2 juta orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pada 2025 yang mencapai sekitar 1,5 juta tenaga kerja.
Dengan hasil uji yang dinilai memuaskan dan regulasi yang segera rampung, pemerintah optimistis program B50 dapat berjalan sesuai jadwal mulai 1 Juli 2026.
BBM B50 Lolos Uji, Mulai 1 Juli 2026 Diterapkan!
Diskusi pembaca untuk berita ini