Jambi, Elaeis.co – Di tengah melimpahnya perkebunan sawit di Provinsi Jambi, lahir sebuah inovasi kuliner yang membuktikan bahwa sawit tidak hanya bernilai sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi.

Setelah sebelumnya dikenal Bolu Sawit karya Iin Arlina asal Kabupaten Bungo, kini giliran Helmaneri, pelaku UMKM asal Kota Jambi, menghadirkan inovasi baru berupa Zazizha Stick Sawit, camilan gurih berbahan dasar turunan sawit yang mulai menarik perhatian masyarakat.

Perempuan berusia 60 tahun itu mengaku ide mengembangkan produk tersebut lahir usai mengikuti Workshop aneka penganan berbahan dasar kelapa sawit yang diselenggarakan Elaeis Media Group pada 9–10 Juni 2026 lalu.

"Dalam pelatihan itu kami diajarkan mengolah saripati sawit menjadi berbagai produk makanan, termasuk bolu sawit. Dari situ saya mulai berpikir mengapa tidak mencoba menciptakan produk lain yang berbeda," ujar Helmaneri saat menjadi narasumber dalam The BeBiBeBa Talkshow di Tempoa Art Gallery, Jumat (10/7).

Dihadapan Rachmadi pimpinan Tempoa Art Gallery yang juga seorang pembina UMKM, Helmaneri menceritakan bahwa potensi kuliner berbahan dasar sawit di Jambi masih sangat terbuka. Padahal, provinsi ini merupakan salah satu sentra perkebunan sawit terbesar di Indonesia dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Melihat peluang tersebut, ia memilih menghadirkan camilan berbentuk stik yang memiliki cita rasa gurih dan aroma khas sehingga mudah diterima berbagai kalangan.

"Oleh karena itu saya tertarik membuat jenis produk baru karena bahan bakunya sangat melimpah di Provinsi Jambi," katanya.

Tidak membutuhkan waktu lama, sepulang dari pelatihan, Helmaneri bersama anaknya langsung melakukan berbagai uji coba hingga akhirnya lahirlah Zazizha Stick Sawit.

Produk tersebut kini telah melalui uji laboratorium serta mengantongi sertifikat halal, sehingga aman dan layak dikonsumsi masyarakat.

Kepercayaan diri Helmaneri semakin tumbuh setelah membawa produknya mengikuti berbagai bazar UMKM, seperti Bazar Jambi Ceria dan Bazar UMKM Bhayangkara.

Respon masyarakat pun melampaui ekspektasinya.

"Alhamdulillah, mungkin ini rezeki saya. Banyak yang mencoba lalu mengatakan stick sawit ini gurih dan harum. Alhamdulillah responsnya sangat baik," ungkapnya.

Sejak mulai dipasarkan, Helmaneri telah memproduksi sekitar 40 kilogram Zazizha Stick Sawit. Produk tersebut tersedia dalam dua pilihan kemasan, yakni 200 gram seharga Rp20 ribu dan 100 gram seharga Rp10 ribu.

Tidak berhenti pada satu produk, Helmaneri juga mengembangkan Zazizha Keripik Sawit, sebagai alternatif camilan berbahan dasar turunan sawit.

Seluruh produk masih diproduksi secara rumahan di Komplek Perum Amuntai Blok B Nomor 17, Kota Jambi, dengan tetap mengedepankan kualitas dan cita rasa.

Pemasarannya pun tidak hanya mengandalkan bazar UMKM. Melalui media sosial, produk Zazizha kini mulai menjangkau konsumen dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Jambi, bahkan telah dikirim ke luar daerah, seperti Padang dan Jakarta.

Kehadiran Zazizha Stick Sawit menjadi bukti bahwa inovasi berbasis komoditas lokal mampu melahirkan produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru.

Dari tangan pelaku UMKM, sawit yang selama ini identik dengan industri perkebunan kini menjelma menjadi camilan khas yang berpotensi menjadi salah satu ikon kuliner kreatif Provinsi Jambi.