“Saat ini Kalimantan Timur satu-satunya provinsi di Indonesia dan Indonesia satu-satunya negara di Asia Pasifik yang pada tahun 2022 berhasil melakukan penurunan emisi karbon dan mendapat insentif dari Bank Dunia,” ungkapnya.
Kalimantan Timur sudah dihitung mampu menurunkan emisi gas buang itu sebanyak 30 juta ton. Sehingga dihargai oleh Bank Dunia sebesar Rp 1,6 triliun. Dari 30 juta ton, baru 22 juta ton yang dibayar oleh Bank Dunia dengan cara dicicil Rp 300 miliar. Dia menyebut Gubernur Kaltim akan melelang sisanya di Singapura dengan harga 25 dolar per ton. Sehingga bisa menghasilkan Rp 8 triliun.
Pencapaian itu menurutnya tak lepas dari hasil campur tangan masyarakat dalam menghijaukan bumi Kutim, diantaranya melalui pengembangan perkebunan kelapa sawit tanpa membakar lahan.
"Pemkab Kutim juga memperhatikan program peremajaan perkebunan kelapa sawit dan beberapa program lainnya," katanya.
"Kutai Timur sudah eksis dengan beberapa ekspor hasil pertanian seperti pisang, nanas dan lainnya. Ini nanti bisa digabungkan dengan koperasi yang sekarang menangani ekspor lidi kelapa sawit. Kalau bisa, kita harus cari tahu lidi mau dijadikan apa oleh importir. Dengan begitu kita tidak lagi mengekspor lidinya, tapi sudah menjadi barang jadi,” tambahnya.
Capai 800 Ribu Hektare, Pembangunan Kebun Sawit di Kutim On The Track
Diskusi pembaca untuk berita ini