Bengkulu, elaeis.co - Mau tidak mau Darusman harus memanen kelapa sawit di kebun miliknya walau kesal lantaran harga terlalu murah.
Elaeis.co berkesempatan berkunjung ke kebun pria 48 tahun itu di Desa Tebing Rambutan, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.
Letak lokasi kebun Darusman ini perbatasan antara Provinsi Bengkulu dengan Lampung. Kepada elaeis.co Darusman bercerita saat ini harga tandan buah segar tingkat pengepul di desanya hanya Rp700 per kilogram.
"Sungguh sangat memberatkan petani harga segitu. Apalagi bagi kami yang memang penghasilan utamanya hanya dari kebun sawit," buka Darusman mengawali cerita dengan elaeis.co, Kamis (14/7).
Darusman mengisahkan, bahwa dia baru saja selesai melakukan panen buah kelapa sawit di kebun yang baru dibelinya sekitar lima bulan lalu seluas 3,5 hektare.
"Hasil panen tadi 2 ton, harga Rp700/kg. Sementara ongkos dodos (panen) Rp 300/kg dan ongkos angkut Rp100/kg. Jadi, angka bersih yang saya diterima hanya Rp300/kg. Mantap kan!," ujarnya.
Menurutnya harga segitu sungguh sangat memberatkan baginya dan keluarga serta semua petani sawit yang ada di Kecamatan Nasal tersebut.
"Untuk uang dapur saja tidak cukup, apa lagi mau beli pupuk dan melakukan perawat kebun, makin tak cukup lagi," terangnya.
Kendati begitu, dengan berat hati Darusman tetap memanen sawit karena hanya itulah penghasilan utamanya. Resiko lain yang harus diterima jika membiarkan buah sawit membusuk akan mengakibatkan kerusakan pada pohon sawit di kebun miliknya.
"Walau harga hancur, kalau waktu panen tiba, tetap harus panen, biar tidak nambah rusak. Sebab kalau dibiarkan, pelepah sawit akan banyak kena hama akibat buah yang busuk tadi. Jadi mau tidak mau harus tetap dipanen," ujarnya.
Dia menyatakan, lokasi kebunnya masih terbilang dekat karena berada dipinggir jalan aspal. Maka itu harganya masih diangka Rp700 per kilogram.
Yang lebih ironi lagi para petani yang jarak kebunnya jauh, otomatis biaya yang harus dikeluarkan lebih besar. Seperti yang dirasakan Kasanegara.
Kebun pria berumur 27 tahun yang dirawat oleh Darusman seluas 12 hektare. Darusman mengatakan, setiap kali panen Kasanegara hanya mendapatkan harga bersih Rp100/kg dari harga jual Rp700/kg.
Pasalnya, biaya yang di keluarkan sangat besar. Dari harga beli TBS Rp700/kg itu dipotong ongkos panen Rp300/kg dan ongkos muat Rp300/kg
"Kasanegara cuman dapat Rp100/kg. Kendati begitu kebun tetap harus dipanen," ujarnya.
Darusman sangat berharap pemerintah pusat bisa segera menstabilkan harga TBS. Sebab harga Rp700/kg itu sangat menyiksa petani sawit.
"Kalau harga segitu, jangankan beli pupuk, dapur bisa berasap saja sudah syukur. Apa lagi harga pupuk saat ini juga sangat mahal. Pupuk mutiara saja, harga persaknya saat ini Rp1 juta. Untuk itu kami meminta agar pemerintah secepatnya menstabilkan harga TBS," ujarnya.
Cerita Harga Sawit di Perbatasan Bengkulu
Diskusi pembaca untuk berita ini