CPOPC menyadari tantangan besar yang dihadapi industri sawit di pasar Eropa. Kampanye negatif yang mengaitkan sawit dengan deforestasi dan kebakaran hutan masih sering digaungkan. 

Untuk itu, Musdhalifah menekankan pentingnya melawan isu-isu tersebut dengan informasi berbasis data dan bukti ilmiah.

Ia menyebut, langkah CPOPC menggandeng konsultan komunikasi di Eropa mulai menunjukkan hasil. Kampanye negatif disebut menurun seiring meningkatnya penyebaran informasi positif dari produsen. 

Salah satu narasi kunci yang terus diangkat adalah penurunan angka deforestasi di Indonesia hingga 70 persen, serta fakta bahwa tidak ada lagi kebakaran hutan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, petani perempuan dari Indonesia telah dihadirkan langsung ke Eropa untuk menyuarakan bahwa sawit bukan sekadar komoditas, melainkan sumber mata pencaharian bagi jutaan keluarga. Upaya diplomasi personal ini dinilai efektif dalam menyentuh hati publik internasional.

Langkah komunikasi positif itu juga diyakini turut berkontribusi pada keputusan Uni Eropa menunda penerapan EU Deforestation Regulation (EUDR) hingga 1 Januari 2026, dari rencana awal 1 Januari 2025. 

Penundaan ini memberi waktu tambahan bagi Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat sistem traceability sekaligus memastikan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO dan MSPO diakui dunia.

“Penundaan ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki sistem kita. Jadi, saat regulasi itu benar-benar berlaku, sawit kita sudah siap bersaing,” ujar Musdhalifah.

Lebih jauh, CPOPC menekankan pentingnya sains sebagai landasan komunikasi internasional. 

Musdhalifah menuturkan bahwa setiap narasi harus didukung oleh bukti ilmiah, agar posisi negara produsen sawit lebih kuat dalam menghadapi tekanan regulasi maupun kampanye hitam. “Jika ada informasi ilmiah yang relevan, mohon disampaikan ke kami agar bisa disuarakan secara global,” ujarnya.

Dengan penguatan ISPO dan MSPO, ditopang oleh komunikasi berbasis riset, CPOPC optimistis industri sawit tidak hanya bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga semakin diakui sebagai bagian penting dari ekonomi hijau global. 

Sawit berkelanjutan pun diharapkan mampu menepis stigma, sekaligus meneguhkan perannya sebagai energi masa depan dunia.