Minyak kelapa sawit, kata Rizal lagi, adalah satu-satunya minyak nabati dengan persyaratan sertifikasi yang paling ketat.
"Di Malaysia, minyak sawit adalah industri yang sangat diatur dengan lebih dari 50 peraturan dan undang-undang yang harus diikuti, dengan MSPO di atasnya," beber Rizal.
Di Indonesia sendiri, kelapa sawit ada di bawah ISPO, sebuah sertifikasi yang menjadi wajib bagi semua jenis perkebunan.
"Pembaruan terbaru pada MSPO dan ISPO bahkan menerapkan prinsip transparansi," katanya.
"Dengan demikian, melalui forum terhormat ini, pertama-tama, kami mengajak setiap negara dan perusahaan untuk melihat kemajuan yang dicapai oleh Indonesia, Malaysia, dan produsen minyak sawit lainnya di seluruh dunia," tuturnya.
Baca juga: Pendiri Microsoft Bill Gates Tuding Sawit, Sekjen CPOPC bilang Begini
"Termasuk dalam menjunjung standar keberlanjutan dan mempromosikan kebijakan inovatif untuk mencapai SDGs," kata Rizal melanjutkan.
Kedua, Rizal berpendapat bahwa kelapa sawit adalah industri global yang bernilai lebih dari USD 50 miliar setiap tahun.
Oleh karena itu, pihaknya selaku negara menekankan perlunya berkolaborasi daripada menyalahkan komoditas pertanian tertentu pada isu degradasi lingkungan.
Ketiga, CPOPC menekankan pentingnya investasi dalam mendukung penelitian dan pengembangan atau research and development (litbang atau R&D).
"Serta aplikasi teknologi untuk produksi minyak sawit rendah emisi dan pengembangan ekonomi sirkular minyak sawit," tegas Sekretaris CPOPC, Rizal Afanfi Lukman.
Di New York, Sekjen CPOPC Sampaikan Kontribusi Sawit untuk Dunia
Diskusi pembaca untuk berita ini