Selain sawit, industri besi dan baja juga menjadi sektor strategis yang selama beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan akibat program hilirisasi mineral.

BPS sebelumnya mencatat sektor industri pengolahan menjadi salah satu penopang ekspor nonmigas Indonesia. Pada awal 2026, produk industri pengolahan masih menunjukkan kinerja positif, termasuk produk olahan minyak sawit, nikel, besi dan baja, semikonduktor, serta kendaraan bermotor.

Meski demikian, ketergantungan terhadap komoditas tertentu masih menjadi tantangan. Struktur ekspor Indonesia dinilai masih cukup terkonsentrasi pada beberapa kelompok produk utama, sehingga ketika harga global atau permintaan pasar melemah, dampaknya langsung terasa terhadap kinerja perdagangan nasional.

Karena itu, pemerintah didorong mempercepat diversifikasi ekspor dan memperkuat hilirisasi industri. Pengembangan produk turunan sawit, peningkatan daya saing industri baja, serta penguatan sektor manufaktur bernilai tambah dinilai penting agar ekspor Indonesia tidak hanya bergantung pada komoditas mentah.

Jika strategi tersebut berjalan, pelemahan sawit dan baja tidak hanya menjadi ancaman, tetapi bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ekspor jangka panjang. 

Namun tanpa penguatan industri, perlambatan komoditas utama dapat kembali menekan mesin perdagangan nasional.