Jakarta, elaeis.co – Industri minyak sawit nasional dinilai masih menyimpan potensi ekonomi sangat besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. 

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkap nilai ekonomi sektor sawit Indonesia saat ini mencapai sekitar 63,8 miliar dolar AS atau setara ribuan triliun rupiah, namun kontribusinya terhadap perekonomian nasional dinilai masih bisa ditingkatkan signifikan.

Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, mengatakan sektor sawit memiliki peluang besar menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional apabila dikelola dengan optimal melalui peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi, dan penguatan tata kelola industri.

Menurut Sahat, kontribusi sawit terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini masih berada di kisaran 3,5 hingga 3,8 persen dari total PDB Indonesia yang mencapai sekitar Rp13.000 triliun. Ia menilai angka tersebut masih jauh dari potensi maksimal sektor sawit.

“Kontribusi sawit ke PDB seharusnya bisa didorong hingga 6 persen. Potensi ekonominya besar, tapi belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya, Jumat (27/2). 

Ia menambahkan, jika pengelolaan industri dilakukan secara menyeluruh dengan dukungan teknologi dan efisiensi produksi, nilai ekonomi sektor sawit Indonesia berpotensi meningkat hingga mencapai 120 miliar dolar AS dalam jangka panjang.

Sahat menjelaskan salah satu faktor utama yang membuat potensi sawit belum tergarap optimal adalah rendahnya produktivitas perkebunan rakyat. Saat ini produktivitas tandan buah segar (TBS) petani rata-rata hanya sekitar 9,2 ton per hektare per tahun.

Padahal, menurutnya, dengan penggunaan bibit unggul, penerapan teknologi, dan program peremajaan tanaman, produktivitas dapat meningkat hingga sekitar 33 ton per hektare per tahun. Ia menyebut luas kebun sawit milik petani mencapai sekitar 6,88 juta hektare atau sekitar 42 persen dari total perkebunan sawit nasional. 

Besarnya porsi kebun rakyat tersebut menunjukkan pentingnya program replanting dan peningkatan kapasitas petani untuk mendorong produksi nasional. “Kalau produktivitas petani naik, dampaknya langsung ke produksi dan nilai ekonomi nasional,” kata Sahat.

Selain peningkatan produktivitas, GIMNI menilai pengembangan industri hilir menjadi langkah penting untuk memaksimalkan potensi ekonomi sawit. 

Produk turunan seperti oleochemical, bahan kosmetik, dan energi terbarukan dinilai mampu memberikan nilai tambah lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan mentah. Pemanfaatan teknologi juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat daya saing global, serta membuka peluang ekonomi baru seperti perdagangan karbon dan praktik industri berkelanjutan.

GIMNI menilai optimalisasi potensi sawit tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga memerlukan pembenahan tata kelola sektor secara menyeluruh, termasuk kepastian data produksi, efisiensi distribusi, dan kebijakan industri yang konsisten.

Sahat menegaskan potensi ekonomi sawit yang mencapai ribuan triliun rupiah harus dikelola secara strategis agar memberikan manfaat maksimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan petani.“Potensinya sangat besar, tetapi perlu pengelolaan yang serius agar benar-benar berdampak pada ekonomi nasional,” ujarnya.

Industri berharap pemerintah dapat mempercepat reformasi sektor sawit melalui peningkatan produktivitas, penguatan hilirisasi, serta pembenahan tata kelola agar potensi ekonomi yang besar tersebut tidak terus terbuang.