Masih ada pasar besar lain seperti China, India, dan Pakistan yang justru menyerap lebih banyak sawit Indonesia. Karena itu, diversifikasi pasar sekaligus promosi praktik baik petani kecil harus jadi strategi utama.
Namun, persoalan tak berhenti di situ. Biaya untuk memenuhi standar sertifikasi internasional seperti ISPO atau RSPO sangat tinggi jika harus ditanggung petani sendiri. Sementara, harga jual sawit bersertifikat belum memberi tambahan keuntungan yang berarti.
“Tidak ada insentif harga yang menarik, jadi wajar kalau motivasi petani rendah,” ujar Imaduddin.
Berdasarkan riset INDEF tahun 2024, risiko ketidakpatuhan terhadap aturan EUDR bisa membuat harga sawit turun 1–9% dan meningkatkan angka kemiskinan petani kecil hingga 7,2%.
Ironisnya, di tengah besarnya peran sawit bagi ekonomi nasional, para petani kecil justru masih berkutat dengan persoalan dasar dari legalitas lahan, akses modal, sampai ketidakadilan harga. Jika kondisi ini terus dibiarkan, industri sawit nasional bisa kehilangan akar terpentingnya, rakyat yang menanam dan merawatnya.
INDEF Bongkar Borok Sistem Sawit, Petani Kecil Paling Sengsara!
Diskusi pembaca untuk berita ini