Dari penjelasan tersebut, terlihat satu hal penting yaitu mengejar produksi tinggi saja belum tentu cukup. Pekebun juga perlu memperhatikan kualitas buah yang dihasilkan.
Sebab, kualitas tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan TBS menghasilkan minyak dan pada akhirnya berpengaruh terhadap nilai ekonominya.
Karena itulah Adzmi mendorong pekebun untuk melihat usaha sawit bukan sekadar dari berapa banyak buah yang berhasil dipanen.
Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting, yakni berapa besar nilai yang dihasilkan dari setiap ton TBS dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Dalam paparannya, pendekatan tersebut digambarkan melalui empat unsur, yaitu Production Value (PV), Production Cost (PC), Marketing Value (MV) dan Marketing Cost (MC).
Logikanya sederhana. Pendapatan akan semakin besar ketika nilai produksi dan pemasaran meningkat.
Sebaliknya, keuntungan bisa tertekan apabila biaya produksi maupun pemasaran terus membengkak.
Dengan demikian, peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas dan pengendalian biaya.
“Pendapatan yang lebih baik tidak hanya datang dari menghasilkan lebih banyak TBS, tetapi juga dari menghasilkan TBS dengan kualitas yang lebih tinggi, meningkatkan nilai OER dan mengelola biaya produksi serta biaya pemasaran secara efisien,” jelas Adzmi.
Selain persoalan formula, PKPKM melihat ada faktor lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana seluruh mata rantai perdagangan sawit bekerja.
Pekebun, pengumpul, pabrik hingga pelaku lainnya perlu memiliki hubungan yang lebih terintegrasi.
Informasi mengenai harga dan kualitas harus tersedia secara jelas sehingga tidak menimbulkan ruang bagi ketidakpastian. Digitalisasi juga dinilai bisa membantu proses tersebut.
Data yang lebih rapi dan terbuka dapat membuat pengambilan keputusan menjadi lebih cepat sekaligus membantu mengurangi potensi penundaan maupun manipulasi biaya.
Pada akhirnya, prinsip yang ingin dibangun adalah premium price, premium quality. Artinya, TBS dengan kualitas lebih baik semestinya memiliki nilai yang lebih tinggi.
Namun, agar prinsip itu berjalan, kualitas buah harus dapat diukur dan informasi mengenai proses pembentukan harga harus bisa dipahami oleh pekebun.
PKPKM sendiri merupakan organisasi yang mewadahi pekebun kecil Malaysia dan telah berdiri sejak 1975.
Organisasi tersebut mencatat sekitar 150.000 anggota terdaftar, dengan sekitar 47.000 di antaranya merupakan anggota aktif. PKPKM juga memiliki 66 cabang di Semenanjung Malaysia.
Selama ini, organisasi tersebut terlibat dalam advokasi kepentingan pekebun kecil, peningkatan kapasitas, pengembangan pertanian berkelanjutan hingga upaya memperkuat kesejahteraan dan daya saing anggotanya.
Pengalaman Malaysia itu kemudian menjadi salah satu bahan pembelajaran dalam IOPS Forum 2026, terutama ketika negara-negara produsen sawit membahas bagaimana posisi pekebun kecil bisa diperkuat.
Bagi pekebun, persoalannya pada akhirnya bukan hanya berapa harga TBS hari ini.
Yang lebih penting adalah bagaimana nilai buah dihitung secara transparan, bagaimana kualitas dihargai, bagaimana biaya ditekan, dan bagaimana pekebun mendapatkan bagian yang lebih adil dari nilai yang dihasilkan komoditas sawit.
Dari sinilah konsep premium price, premium quality mendapatkan relevansinya: buah yang lebih berkualitas harus punya dasar yang jelas untuk dihargai lebih tinggi.
Ini Alasan TBS Sawit Malaysia Bisa Dibayar Lebih Mahal
Diskusi pembaca untuk berita ini