Bengkulu, elaeis.co - Pemupukan kelapa sawit dengan sistem kocor lebih baik dibandingkan sistem tabur. Hal itu diungkapkan oleh pengamat pertanian dari Universitas Bengkulu, Prof Dr Zainal Muktamar.

Pemupukan dengan sistem kocor dilakukan dengan melarutkan butiran pupuk NPK dengan air terlebih dahulu, lalu larutan tersebut disiramkan ke media tanam. Sistem ini sama seperti pengaplikasian pupuk cair yang banyak dilakukan oleh petani cabai di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.

"Metode memupuk itu ada tiga. Pertama dengan sistem tabur, kemudian injeksi batang, dan kocor. Nah sistem kocor ini biasanya banyak dilakukan oleh petani cabai, tapi akhir-akhir ini banyak juga petani kelapa sawit yang melakukannya," kata Zainal, kemarin.

Ia mengatakan, dari segi pengaplikasian, pemberian pupuk dengan sistem kocor lebih mudah, hemat, dan optimal, ketimbang sistem tabur yang aplikasinya kurang merata. Dengan pemberian pupuk NPK sistem kocor, semua akar tanaman akan menerima pupuk dengan merata sehingga lebih banyak pupuk yang dapat diserap tanaman.

"NPK yang terserap merata pada akar tentunya membawa keuntungan yang lebih pada tanaman. Sehingga produksi buah pada tanaman akan meningkat," ujarnya.

Meski begitu, menurutnya, ada kelemahan dari pemupukan dengan sistem kocor ini yaitu tidak bisa dilakukan pada musim hujan. "Akan larut dan hanyut terbawa oleh air sehingga tidak bisa diserap oleh tanaman kelapa sawit," tuturnya.

Ia menjelaskan, dosis pupuk kocor untuk pupuk jenis NPK Mutiara yang tepat atau sesuai standar adalah melarutkan 10 sendok makan pupuk NPK Mutiara ke dalam 20 liter air. Jadi, setiap satu sendok makan pupuk NPK Mutiara perlu dilarutkan ke dalam air sebanyak dua liter.

"Setiap pohon kelapa sawit hanya membutuhkan sebanyak 1 liter hingga 2 liter larutan pupuk. Tentu ini lebih hemat dibandingkan pupuk dengan cara tabur, tapi hasilnya lebih maksimal," tutupnya.