Jakarta, elaeis.co - Aspekpir Indonesia saat ini tengah menggarap film dokumenter yang menceritakan perjuangan petani di desa transmigrasi dan berbudi daya kelapa sawit. Saat ini tiga judul telah disiapkan untuk film dokumenter tersebut.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia, Setiyono saat berbincang bersama elaeis.co menjelaskan film dokumenter tersebut dibuat dengan semangat agar sejarah perjuangan lahirnya Aspekpir Indonesia tidak hilang termakan zaman. Selain itu juga sebagai bentuk perlawanan kampanye negatif terhadap kelapa sawit.

"Kita Aspekoir lahir dari transmigrasi. Jadi, kita ingin ceritakan semuanya lewat film dokumenter ini," ujarnya, Senin (5/6).

Lewat film ini, tambah Setiyono, pihaknya ingin membuktikan bahwa kelapa sawit membuat sejahtera masyarakat khususnya warga transmigrasi. Dimana rencananya akan diceritakan sejak awal hingga terbentuknya petani plasma dan berhasil dari budidaya kelapa sawit.

Film ini akan dibuat di tiga desa yakni Desa Teluk Merbau, Kabupaten Siak, Desa Bono Tapung Rokan Hulu dan Desa Bumi Kencana di Musi Banyuasin. Kemudian juga melibatkan tiga koperasi yang salah satunya yakni KUD Tani Sejahtera.

Koperasi tersebut adalah binaan PTPN V yang beroperasi di Desa Bono Tapung. Dimana koperasi ini telah mengadopsi sistem digital yakni aplikasi Smartcoop.

"Nanti akan kita sajikan dalam film dokumenter yang akan kita rilis Juni atau Juli mendatang," paparnya.

Selain menceritakan sejarah Aspekpir, dalam film dokumenter tersebut juga akan disajikan bagaimana PSR berjalan dan sebagainya.

Setiyono juga mengatakan film ini dapat memberikan pengalaman yang bagus bagi penontonnya. Dimana pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) adalah pola yang sangat layak untuk dipertahankan. Bahkan diadopsi di perkebunan kelapa sawit swadaya. Yakni bagaimana cara menjangkau kemitraan terhadap perusahaan.

"Saat ini sudah tidak ada lagi pola PIR. Namun ini masih sangat layak untuk diadopsi petani swadaya menjadi model kemitraan," terangnya.

Selain di televisi, film dokumenter ini rencananya juga akan dihadirkan di berbagai media sosial hingga dapat dinikmati seluruh masyarakat. Agar kampanye negatif terhadap kelapa sawit tidak lagi ada. 

"Saat ini Eropa kembali membuat regulasi baru yang lebih mengarah pada kampanye negatif kelapa sawit. Dan kita ingin buktikan melalui film dokumenter ini," bebernya.

Sebelumnya Setiyono juga sempat bertemu dengan Gubernur Riau, Syamsuar. Dikatakannya orang nomor satu di Riau tersebut juga bakal menjadi salah satu narasumber dalam film dokumenter itu.

"Gubernur sangat antusias dan mendukung film dokumenter ini. Ia akan menjadi salah satu narasumber karena tau betul bagaimana desa dan warga transmigrasi di wilayah Siak," bebernya.