Jakarta, elaeis.co - Bulan Ramadhan merupakan momentum bagi umat muslim di seluruh dunia untuk memaksimalkan kebaikan. Tidak hanya kepada sesama manusia, tapi juga dalam bertindak menjaga bumi dan seisinya.

Menggunakan semboyan Ramadhan Minim Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengajak masyarakat mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan di sepanjang bulan puasa.

Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Sinta Saptarina, pada Diskusi Pojok Iklim, belum lama ini, menyampaikan pada bulan Ramadhan kita dituntut menahan diri dan menahan nafsu. Namun demikian, timbulan sampah di bulan Ramadhan justru naik 20 persen.

Hal itu, menurut Sinta, dikarenakan jumlah sisa makanan dan sampah kemasan. Melalui Ramadhan Minim Sampah ini, pihaknya  mengajak masyarakat untuk memberikan keteladanan dengan perubahan kecil terkait sampah.

Sinta mencontohkan volume timbulan sampah di Surabaya. “Saat normal, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo Surabaya per hari sekitar 1.500-1.600 ton. Jumlah sampah itu meningkat 100-200 ton per hari di bulan Ramadhan,” ujar Sinta.

Contoh lainnya yaitu laporan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, yang mencatat kenaikan timbulan sampah sebesar 5-10% dibandingkan hari biasa, yakni sekitar 970 ton per hari.

Berdasarkan data KLHK, sampah organik berupa sisa makanan mendominasi komposisi sampah tertinggi di Indonesia, mencapai 41,2%, diikuti sampah plastik 18,2%.
Sementara berdasarkan sumber, sampah rumah tangga menyumbang jumlah sampah nasional terbesar mencapai 39.2%.

Apabila sampah tidak dapat terkelola dengan baik, Sinta meyakini dapat berdampak buruk bagi kesehatan, memiliki potensi pencemaran lingkungan, hingga peningkatan emisi karbon dari sektor sampah.

Sinta mencontohkan sejumlah langkah sederhana selama Ramadhan, di antaranya dengan membawa wadah makanan guna ulang dan tas belanja sendiri saat membeli takjil, mengkonsumsi makanan secukupnya, hingga memilah sampah dari rumah guna mendorong ekonomi sirkular.

“Berbagai langkah sederhana ini dapat memberikan keteladanan bagi masyarakat lainnya untuk bersama-sama mengubah perilaku agar lebih ramah lingkungan,” kata Sinta, mengutip website resmi KLHK, Selasa (11/4).

Hayu Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan SDA MUI, mengingatkan berbagai kerusakan di muka bumi yang telah ada disebabkan oleh ulah manusia.

“Pendekatan gaya hidup reuse dan recycle sebagai bagian dari ekonomi sirkular mampu mencegah hal yang mubazir dan berlebih-lebihan, seperti menggunakan kembali plastik yang masih bisa dimanfaatkan. Termasuk mengompos sisa makanan menjadi pupuk organik,” ungkap Hayu.

“Melalui pemberdayaan masjid, pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi ini pada akhirnya dapat disalurkan menjadi santunan, dukungan pendidikan, asuransi, pembangunan masjid dan berbagai kegiatan ibadah lainnya yang bermanfaat,” ungkap Hayu.