Jakarta, elaeis.co - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah menandatangani circular letter terkait persetujuan aksesi Republik Demokratik Kongo (RDK) menjadi anggota penuh dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Rabu (12/03). Surat tersebut juga akan ditandatangani secara paralel oleh Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, Menteri Pertanian dan Peternakan Honduras, serta Menteri Kelapa Sawit Papua Nugini.

Pada tahun 2023, harvested area kelapa sawit RDK sekitar 340.000 hektar dengan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 2,23 juta ton dan produktivitas 6,59 ton per hektar. Adapun jumlah pekebun kelapa sawit sebanyak 54.000 pekebun. Meskipun industri kelapa sawit Republik Demokratik Kongo masih dalam tahap pengembangan, negara ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi sawit secara berkelanjutan. RDK berkomitmen untuk mengembangkan sektor kelapa sawit sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.   

"Sebelum resmi menjadi anggota penuh, RDK telah berperan sebagai negara tamu (guest country) dan pengamat (observer country) di CPOPC. Keanggotaan RDK di CPOPC sebagai negara Afrika pertama yang menjadi anggota penuh akan semakin memperkuat posisi CPOPC di kancah global. Hal ini menjadi langkah strategis dalam memperluas pengaruh CPOPC di pasar kelapa sawit dunia, terutama dalam menghadapi hambatan perdagangan dan akses pasar baru produk kelapa sawit," paparnya dalam siaran pers dikutip Jumat (14/3).

Forum CPOPC merupakan organisasi internasional untuk komoditas kelapa sawit yang didirikan pada tahun 2015 oleh Indonesia dan Malaysia, dua negara penghasil kelapa sawit terbesar. Adapun salah satu tujuan CPOPC adalah mendukung pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memajukan ekonomi global melalui industri kelapa sawit. Sekretariat CPOPC berkedudukan di Jakarta, di mana Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian merupakan focal point untuk CPOPC.

Saat ini, anggota CPOPC terdiri dari negara-negara penghasil kelapa sawit utama seperti Indonesia, Malaysia, Honduras, dan Papua Nugini, yang masing-masing memiliki kontribusi besar terhadap produksi global. Dengan bergabungnya RDK, CPOPC tidak hanya memperluas jangkauan geografisnya, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan industri kelapa sawit yang lebih inklusif di kawasan Afrika, serta memperkuat posisi organisasi dalam memperjuangkan keberlanjutan dan kebijakan yang mendukung sektor ini di berbagai belahan dunia.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. foto: Kemenko Perekonomian