"Biaya produksi listrik yang kami hasilkan sekitar Rp 600-Rp 700 per kwh, tapi harga yang dibeli PLN hanya Rp975 per kwh," kata Ipan S Manalu.
"Kerena ketentuan harga tersebut masih mengacu pada Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2012," ujar Ipan menambahkan.
Dia berharap pemerintah bisa memberikan harga yang lebih baik pada listrik tenaga biogas. Apalagi saat ini seiring dengan upaya pemerintah menggalakan sumber EBT guna mengurangi emisi karbon.
Meski demikian, Ipan mengakui insentif yang diberikan pemerintah melalui kementerian keuangan cukup membantu. Insentif tersebut berupa pembebasan Pajak Penghasilan (PPh 23).
"Kami berharap juga ada kelancaran di Bea Cukai, karena kita masih menggunakan mesin dan teknologi dari Jerman. Misalnya, kita belum memiliki gas engine produksi nasional," ucap Ipan.
Ia juga menjelaskan, biogas yang dihasilkan berupa gas metana yang berasal dari proses pembusukan limbah cair pabrik kelapa sawit.
Biogas metana tersebut selanjutnya melalui proses pembakaran untuk menghasilkan listrik.
Menurut Ipan, pembangkit listrik tenaga biogas di Belitung ini sangat mungkin meningkatkan kapasitas produksi listriknya. Meski tidak besar hanya sekitar 20 hingga 30 persen.
"Tergantung limbah cair yang dihasilkan pabriknya, kalau kapasitas pabriknya lebih dari 1.200 ton per hari, kapasitasnya bisa bertambah. Tapi tidak banyak, mungkin hanya 20-30 persen," kata Ipan menutup penjelasannya.
Perusahaan Swasta Nasional Ini Punya PLT POME, Hasilnya Dijual ke PLN
Diskusi pembaca untuk berita ini