Jambi, elaeis.co - Santer terdengar belakangan ini sejumlah pihak meminta Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tanpa kebun disarankan untuk ditutup. Pernyataan ini kemudian melahirkan sejumlah tanggapan mengenai PKS tanpa kebun tersebut.
Seperti Dermawan Harry Oetomo yang merupakan petani kelapa sawit dan juga sebagai salah satu pengurus DPP Apkasindo. Menurutnya, dorongan penutupan PKS itu justru tidak melihat dampak yang akan timbul terutama di tengah- tengah petani kelapa sawit swadaya atau mandiri. Pasalnya, dari pengamatannya hingga saat ini hadirnya PKS tanpa kebun justru membantu menyerap hasil panen kebun kelapa sawit milik petani swadaya.
"Bukankah yang memberikan perizinan juga pemerintah Indonesia, dimana sangat membantu sebagai penyelamat TBS petani sawit swadaya dan tidak terjadi lagi antrian mobil yang panjang sampai berhari-hari," paparnya saat berbincang dengan elaeis.co, Senin (4/5).
Tidak sampai di situ, PKS tanpa kebun juga berpartisipasi membebaskan petani swadaya dari budaya tengkulak atau pengepul yang membeli kelapa sawit dengan harga yang lebih rendah dari PKS. Situasi dan kondisi ini sudah terlanjur dinikmati oleh para petani sawit swadaya.
"Hadirnya PKS tanpa kebun justru menjadi wadah bagi petani swadaya untuk menjual kelapa sawitnya dengan harga yang wajar. Dengan begitu petani menikmati hasil yang maksimal dan dapat memenuhi kebutuhan perawatan kebunnya," bebernya.
Sebaiknya menurut Dermawan, penutupan PKS tanpa kebun itu tidak harus dilakukan. Tinggal bagaimana membuat PKS tersebut bermitra dengan petani di sekitar lokasinya beroperasi.
"Jika sudah bermitra maka keterjaminan kelapa sawit milik petani swadaya semakin nyata. Harga juga semakin jelas. Lalu kesejahteraan petani semakin terjamin dampaknya tentu akan sampai pada kemajuan daerah," tandanya.
PKS Tanpa Kebun Bantu Serap Produksi Bantu Sawit Swadaya
Diskusi pembaca untuk berita ini