Bengkulu, elaeis.co - Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bengkulu mencatat kegiatan ekspor bungkil kelapa sawit atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) asal Bengkulu masih nihil. Padahal produksi kernel di daerah ini mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bengkulu, drh Bukhari MM mengatakan, produksi CPKO terbanyak berada di Kabupaten Mukomuko, mencapai 120 ribu ton per tahun. Meskipun produksinya cukup banyak, namun ekspor komoditas ini tidak tercatat sama sekali melalui Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

"Untuk kernel sawit belum ada sama sekali dilakukan ekspor langsung dari Bengkulu," kata Bukhari, Sabtu (13/8).

Bukhari mengaku, kernel asal Bengkulu banyak diekspor melalui provinsi tetangga seperti Riau, Lampung, dan Sumatera Barat. Hal ini disebabkan, belum ada eksportir di daerah yang siap melakukan ekspor komoditas kernel.

"Karena eksportirnya belum ada, makanya banyak di ekspor dari provinsi lain, sebab provinsi lain itu sudah ada eksportirnya," ujarnya.

Padahal menurut Bukhari, jika Bengkulu mampu melakukan ekspor kernel secara mandiri, tentu saja akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Sehingga perekonomian masyarakat secara tidak langsung akan ikut meningkat.

"Kalau di Bengkulu ada yang mau melakukan ekspor, pasti berdampak pada peningkatan perekonomian di daerah juga," tuturnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu, Ir Yenita Saiful mengatakan, masih belum adanya kegiatan ekspor kernel di Bengkulu disebabkan kapal tongkang di Pelabuhan Pulau Baai yang tidak begitu banyak. Selain itu, butuh kapal tongkang khusus untuk mengangkut kernel yang akan di ekspor. 

"Permasalahan yang dialami yaitu dari para eksportir Bengkulu masih kekurangan kapal tongkang," ungkapnya.

Selain permasalahan kapal, Yenita mengaku, ketersediaan angkutan kapal untuk ekspor juga masih belum begitu banyak. Berbeda dengan pelabuhan seperti di Riau dan Lampung di mana kapal untuk kegiatan ekspor jumlahnya cukup banyak.

"Kita tidak mungkin ekspor kernel, tapi kapalnya tidak ada. Kemudian mau ekspor harus menunggu kapal datang dulu, tidak mungkin karena CPKO tidak mungkin bisa bertahan lama, kualitasnya bisa menurun," tuturnya.