“Berikutnya secara berturut-turut kita akan TU juga di Unit Beringin yang mengkonversi dari tanaman karet seluas 380 hektare. Izin konversinya sudah selesai dan tinggal eksekusi. Dan target kami, sampai 2026 kita punya 40 ribu hektare kelapa sawit produktif,” paparnya.
SEVP Operation I PTPN VII, Budi Susilo mengatakan, ketertinggalan hampir 10 tahun tidak ada tanam ulang menjadi preseden yang akan mengganggu kontinuitas usaha. Sebab, kata dia, jumlah produksi akan mengalami fluktuasi yang sangat dalam karena variasi umur tanam yang tidak berimbang.
“Stagnasi selama sembilan tahun sudah pasti mengganggu stabilitas produksi yang otomatis berimbas ke cashflow. Sebab, terjadi kekosongan produksi yang disebabkan tidak meratanya umur tanaman produktif. Oleh karena itu, TU hari ini adalah ikhtiar kita untuk mengejar komposisi umur tanaman yang lebih ideal,” kata dia.
Budi optimistis, dengan dimulainya program tanam ulang ini akan menjadi momen perbaikan kinerja PTPN VII secara keseluruhan. Ia menambahkan, jenis bibit sawit yang ditanam ulang di PTPN VII adalah benih produksi PPKS dan Socfin yang telah diperlakukan khusus dan mendapatkan rekomendasi balai.
“Kami menggunakan bibit dengan perlakuan antigano atau tahan dari serangan ganoderma, penyakit tanaman yang selama ini menjadi pengganggu tanaman kita,” katanya.
Tentang keunggulan bibit yang ditanam PTPN VII ini, selain antigano, juga memiliki umur yang lebih cepat berbuah dan produktivitas tinggi. Ia menyebutkan, dengan perlakuakn agronomis yang sesuai SOP, benih ini akan mulai memasuki TM I (tanaman menghasilkan tahap I) pada umur 30 bulan setelah tanam. Sedangkan produktivitasnya bisa mencapai 12 ton per hektare pada TM I.
PTPN VII Mulai Tanam Ulang Sawit, Diingatkan Jangan Sampai Gagal
Diskusi pembaca untuk berita ini