Perang di Ukraina, konflik di negara-negara Timur Tengah, dan konflik regional lainnya menambah ketidakpastian ini, yang memengaruhi perdagangan dan investasi global. 

Karena itu Eddy memprediksi, pertumbuhan ekonomi global tetap lamban. Banyak ekonom memperkirakan bahwa kondisi akan tetap tidak berubah atau melemah dalam waktu dekat, sehingga menimbulkan tantangan bagi industri di seluruh dunia, termasuk minyak sawit. 

Industri minyak sawit sendiri mengalami volatilitas harga dan dinamika pasar karena pasar minyak sawit sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi, pertumbuhan ekonomi, kondisi cuaca, dan perubahan kebijakan di negara pengekspor dan pengimpor, preferensi konsumen, dan persaingan dari minyak nabati lainnya. 

Persoalan lainnya, kata Eddy, adalah inflasi yang menyebabkan harga komoditas lebih tinggi, tetapi permintaan dan harga bervariasi karena aktivitas ekonomi global, dinamika rantai pasokan, dan ekspektasi pasar. 

“Meskipun tingkat inflasi telah menunjukkan tanda-tanda mereda, namun tetap menjadi perhatian para pembuat kebijakan dan bisnis,” kata Eddy. 

Saat ini, ia menambahkan, industri sawit menghadapi ketidakpastian yang signifikan karena potensi krisis pangan dan energi, serta hambatan perdagangan yang diberlakukan oleh negara-negara pengimpor, seperti EUDR (European Deforestation Regulation).

Nah, melalui forum IPOC 2024 ini, Eddy berharap Pemerintahan Prabowo Subianto akan mengambil langkah-langkah bijaksana untuk mempertahankan daya saing industri minyak kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan untuk kemandirian energi.  

Terlebih, hal itu telah digariskan dalam Asta Cita, visi dan misi kerangka kerja "Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045. 

“Tindakan utama meliputi penguatan praktik produksi berkelanjutan, menghindari regulasi yang kontraproduktif, dan mempercepat program penanaman kembali petani kecil,” ucap Eddy.

Semua itu dimaksudkan untuk memastikan rencana pemerintah meningkatkan mandat biofuel menjadi B50 pada tahun 2026 dapat terwujud tanpa memengaruhi kebutuhan pangan dan ekspor.

Selain itu, kata Eddy pula, advokasi untuk perdagangan bebas dan adil tetap penting, karena hambatan perdagangan apa pun akan meningkatkan biaya dan membebani industri.  

“Saat kita menatap tahun 2025, kami tetap optimis. Dengan kebijakan pemerintah yang tepat, kami yakin industri minyak sawit dapat mencapai pertumbuhan yang stabil di tengah dinamika pasar dan ekonomi,” Eddy menegaskan. 

Dua Dasawarsa Indonesian Palm Oil Conference   
Perhelatan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), yang merupakan hajat tahunan GAPKI, kali  boleh dibilang sangat istimewa karena bertepatan dengan pelaksanaannya yang ke-20.