Gaya hidup yang menonjolkan peran plastik dalam kehidupan sehari-hari perlu dikurangi, jika tak mampu mengakhirinya secara total.
Wajah lingkungan hidup menjadi calar dan berkesan suram sepanjang produk plastik masih saja menghias kemajuan yang didefenisikan sebagai modernisasi oleh mesin-mesin mekanis skala massif.
Pabrik plastik atau plastik itu sendiri tidak perlu dimusnahkan, karena dia bersisian dengan keperluan manusia modern. Tapi, pemakaian dan pendaur-ulangannya yang harus dilakukan secara mangkus, sehingga dia tidak menjadi ancaman bagi peradaban.
Gerakan anti kantong plastik, sejatinya telah dilakukan oleh komunitas, aktivis lingkungan dan para pecinta lingkungan dalam ragam bentuk kelembagaan, baik profesional maupun lembaga swadaya masyarakat.
Per individu, terutama mereka yang lebih terdidik dan banyak berinteraksi dengan kenyataan lingkungan; termasuk pula kaum para penyayang hewan, lebih jauh dan lebih dulu melakukan gerakan anti segala ihwal yang berbau plastik ini.
Bagi kelompok sejenis ini, gerakan ini telah menadi dan menjadi gerakan sekaligus gaya hidup. Warga perkotaan yang sadar akan petaka sampah plastik, telah menyuarakan lewat media elektronik, media cetak.
Gerakan ini lebih massif atas panggung jejaring media sosial; menyapa setiap orang yang mengakses media online (sosial) itu: Kembali ke kehidupan natura!
Respon kaum hippies mengharamkan pakaian dari bahan-bahan yang bersumber dari kulit dan bulu hewan. Super ekstrim lagi, muncul komunitas naturalis; gaya hidup bugil (telanjang), yang dinaungi fasilitas akomodasi dan ruang sosial sebagaimana ditemukan di Barat.
Kaum naturalis ini bertolak dari anggapan bahwa untuk menyayangi lingkungan dan bumi, salah satu “jalan pedang” adalah menghindari busana yang terbuat dari bahan-bahan alam.
Nir-Plastik: Ya, Kehidupan
Diskusi pembaca untuk berita ini