Dari sini muncul hotel dan resort yang menampung gaya hidup bugil, pantai, kawasan hutan dan pegunungan yang menerima kaum bugil lelaki dan perempuan, bugil untuk anggota keluarga.
Di sini, bugil menjadi gaya hidup. Mereka menjalani hidup bak primata, berjalan dan bermain-main di pantai dalam rombongan bugil ria.
Sayang lingkungan juga kah? Mereka menjadi penyayang lingkungan dalam cara lepaskan yang melekat di badan. Duhai wahaaii... Entahlah...
Kembali ke kehidupan nir-plastik dalam langgam SDGs atau MDGs, agaknya tak berlebihan, jika hiruk pikuk digempitakan lagi menjadi demam demonstratif kepada kanak-kanak.
Sosialisasi gerakan anti plastik ini bisa melalui lembaga OSIS dan pramuka lingkungan. Awali dengan cara menghimpun anak-anak para pedagang dan penjual komoditi di pasar basah: penanaman nilai tentang anti plastik.
Jalaran nilai dan pesan yang hendak disampaikan oleh pemerintah atau sejumlah LSM pro green, akan lebih efektif.
Sebab, yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan itu adalah anak-anak mereka sendiri (anak para pedagang atau malah cucu; generasi bunga).
Kemudian para anak dan cucu inilah yang menyapa (menegur) para kakek dan nenek yang berprofesi pedagang itu tentang nilai dan apa itu sampah dan penyampahan. Pun, menggelorakan semangat kaum emak-emak yang membawa sendiri tas-tas bersuasana raga (dalam format jaring/net) ketika pergi berbelanja ke pasar, tentulah menjadi kaidah yang mangkus jua.
Gairah baru ini, akan melahirkan para desainer khusus merancang bentuk-bentuk tas yang modis dalam industri kreatif. Paling tidak, muncul lagi satu kreativitas baru dalam bisnis dan niaga. Tak perlu membugilkan diri dari plastik.
Nir-Plastik: Ya, Kehidupan
Diskusi pembaca untuk berita ini