Jakarta, elaeis.co – Sawit Watch mengklaim program strategis tersebut belum melibatkan minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan petani sawit swadaya. 

Temuan itu disampaikan langsung dalam audiensi dengan Komisi XII DPR RI sebagai dorongan agar petani rakyat mendapat ruang dalam rantai pasok biodiesel nasional.

Direktur Eksekutif Sawit Watch Achmad Surambo mengungkapkan, berdasarkan kajian organisasinya, tidak ada satu pun CPO yang berasal dari petani sawit rakyat digunakan dalam implementasi biodiesel B50.

Pernyataan itu disampaikan Surambo saat audiensi bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/7).

"Pak Prabowo meluncurkan B50, artinya 50 persen berasal dari CPO sawit. Namun setelah kami dalami, ternyata tidak ada yang berasal dari petani," ujar Surambo.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi karena program biodiesel selama ini digadang-gadang sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sawit. 

Faktanya, kata dia, petani swadaya justru belum ikut menikmati manfaat dari rantai pasok program tersebut.

Surambo menilai pemerintah seharusnya membuka akses yang lebih besar bagi petani sawit rakyat agar dapat berkontribusi langsung dalam penyediaan bahan baku biodiesel. 

Dengan demikian, program energi nasional juga dapat menjadi instrumen pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi masyarakat di daerah.

Ia juga menyoroti regulasi yang berlaku, yakni Peraturan Menteri ESDM Nomor 24 Tahun 2021. 

Menurutnya, aturan tersebut belum memberikan ruang bagi koperasi maupun kelembagaan petani untuk menjadi bagian dari badan usaha penyedia bahan bakar nabati.

"Di Permen ESDM Nomor 24 Tahun 2021 tidak ada pengaturan mengenai koperasi. Seluruh badan usaha bahan bakar nabati diarahkan kepada perusahaan-perusahaan besar," ujarnya.