Pekanbaru, elaeis.co - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mencatat, harga minyak sawit mentah (CPO) selama Desember 2022 hingga Januari 2023 mengalami tren penurunan. 

"Rata-rata berada di angka Rp11.200 sampai Rp11.400 per kilogram. Akibatnya harga TBS terdampak juga turun di kisaran Rp1.800 sampai Rp2.450 per kilogram," kata Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr Gulat ME Manurung kepada elaeis.co, Selasa (31/1). 

Menurut Gulat, harga ini masih sangat rendah bagi petani. Apalagi saat ini Harga Pokok Penjualan (HPP) 1 kg TBS berada di angka Rp2.000 sampai Rp2.250/kg. Ini jauh lebih tinggi ketimbang sebelumnya yang hanya Rp1.600 sampai Rp1.800/kg. 

"Naiknya (HPP) secara tajam faktor utamanya adalah melonjaknya harga pupuk sampai 300 persen. Pada dua minggu terakhir memang sudah turun, tapi masih tercatat lebih tinggi 180 sampai 200 persen dari sebelumnya," ujarnya. 

Di sisi lain, Gulat mengaku kebingungan dengan kondisi yang ada. Pasalnya di tengah turunnya harga CPO itu, justru bahan pangan yang bahan bakunya berasal dari sawit harganya malah naik. 

"Memang ada yang aneh. Harga kebutuhan pangan berbahan baku minyak sawit secara umum naik, tapi kok harga bahan bakunya anjlok? Hal ini juga dikatakan oleh GAPKI saat pers conference minggu lalu," katanya. 

"Hitungan kami kenaikan kebutuhan pangan berbahan baku minyak sawit naik rerata 10 sampai 15 persen selama 2022. Tapi TBS kami malah anjlok sejak larangan ekspor dan belum pulih. Sejak Senin semalam, sampai hari ini range harga TBS di pabrik hanya Rp2.200 sampai Rp2.500 per kilogram," sebutnya.

Gulat mengatakan, saat ini petani sawit sangat berharap kenaikan harga TBS dan juga penurunan harga pupuk. Harapan ini juga semakin besar dengan adanya B35 yang mulai diluncurkan Februari 2023 ini.

"Harga TBS di atas Rp3.000 per kilogram baru petani sawit memperoleh manfaat, untung secara ekonomis. Semoga dengan B35 ini harga CPO naik signifikan sehingga harga tbs kami terdongkrak di harga minimum Rp3.000 per kilogram," harapnya.