Jambi, elaeis.co - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Jambi, Kasriwandi, memandang skeptis kondisi persawitan belakangan ini.

"Khusus di Jambi, terlalu banyak dihadapkan dengan persoalan," kata Iwan --panggilan akrab Kasriwandi-- kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Kamis (14/3).

Makanya, saat ditanya apakah petani sawit di Jambi akan ikut menikmati Lebaran tahun ini, sama dengan kelompok masyarakat lainnya, "Sulit saya menjawabnya."

Tapi, sejurus kemudian Iwan berucap lagi: "Bagi (petani) yang punya 20 hektar atau lebih, mungkin (bisa ikut berlebaran)."

Yang susah, menurut Iwan, petani yang termasuk kelompok gurem, yang hanya punya satu atau dua hektar kebun sawit. "Justru kelompok seperti ini yang dominan," katanya.

Diakui oleh Iwan, pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Jambi lumayan menggembirakan sejak beberapa waktu belakangan ini.

Dijelaskan Iwan, untuk penetapan harga terakhir untuk jenis TBS kelapa sawit bermitra dihargai Rp2.677/kg dan TBS swadaya Rp2.200/kg di tingkat pabrik.

"Yang paling merugikan petani belakangan ini adalah datangnya musim trek," katanya. Sudah dimulai sejak dua bulan belakangan, menurut Iwan, musim trek memangkas angka produksi sawit dari 40 sampai 60 persen.

Musim trek, menurut Iwan, merupakan kelanjutan dari persoalan sebelumnya, yaitu pandemi Covid-19, di saat para petani tidak bisa mencurahkan perhatian penuh pada perkebunan kelapa sawitnya.

"Ditambah lagi harga pupuk yang mahal dan langka di pasaran, yang sedikit atau banyak akan berpengaruh pada produksi kelapa sawit petani," sebutnya.