Jakarta, elaeis.co – Cangkang sawit (oil palm shell) asal Indonesia kembali menjadi sorotan dunia energi. 

Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI) menyebut komoditas limbah kelapa sawit ini kini bukan sekadar produk sampingan, melainkan biomassa premium yang dinilai lebih efisien dibanding batu bara dan makin diburu pasar global.

Di tengah gelaran PALMEX Jakarta 2026, APCASI menegaskan bahwa dunia kini semakin bergantung pada cangkang sawit Indonesia sebagai sumber energi alternatif untuk pembangkit listrik.

Chairman APCASI, Dikki, menyebut cangkang sawit Indonesia memiliki kualitas energi yang sangat tinggi untuk bahan bakar padat.

“Cangkang sawit adalah biomassa yang paling bagus dan paling efektif dibandingkan biomassa apa pun di seluruh dunia,” tegasnya di Jakarta International Expo, Rabu (6/5).

Menurut APCASI, nilai kalor cangkang sawit yang stabil, kadar air rendah, serta emisi yang lebih bersih membuatnya menjadi substitusi ideal batu bara di berbagai negara, terutama Jepang dan Korea Selatan.

Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 12–14 juta ton cangkang sawit per tahun, menjadikannya salah satu pemasok biomassa terbesar di dunia.

Sebagian besar produksi tersebut telah diekspor untuk kebutuhan pembangkit listrik berbasis co-firing dan energi hijau di Asia Timur.

Namun, APCASI menilai potensi pasar domestik masih jauh lebih besar dan belum tergarap optimal.

APCASI mendorong agar cangkang sawit juga diserap lebih besar di dalam negeri, khususnya untuk PLTU co-firing biomassa, PLTD di wilayah terpencil (3T), Program transisi energi PLN.

Namun, tantangan utama masih terletak pada biaya logistik yang tinggi dari pabrik kelapa sawit ke lokasi pembangkit listrik.

APCASI juga meminta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) ikut memberi dukungan insentif untuk sektor biomassa.

“Saya mengusulkan agar persoalan logistik cangkang sawit ke PLTD PLN diberikan insentif melalui BPDP. Jangan hanya biodiesel yang menyerap mayoritas anggaran,” tegas Dikki.

Menurutnya, selama ini lebih dari 90 persen dana BPDP terserap untuk program biodiesel, sementara biomassa belum mendapat porsi seimbang.

Dengan meningkatnya permintaan global terhadap energi hijau, cangkang sawit kini dipandang sebagai “golden biomass” dari Indonesia.