Mahasiswa juga mempraktekkan proses akuisisi data lapangan untuk melakukan pemetaan menggunakan drone DJI Matrice 4 yang merupakan salah satu drone dengan akurasi tinggi karena memiliki rover RTK. 

Pengenalan kepada mahasiswa untuk melakukan monitoring dan evaluasi kondisi kebun menggunakan drone penting karena kegiatan ini telah banyak dilakukan di perkebunan kelapa sawit. 

Selain itu mahasiswa juga mempraktekkan evaluasi kesehatan tanaman kelapa sawit menggunakan drone multispektral DJI Mavic 3 Multispektral Enterprise. 

Mahasiswa dapat melihat secara langsung kondisi tanaman kelapa sawit melalui remote drone yang telah disetel untuk menampilkan kesehatan tanaman melalui indeks NDVI. 

Selain pengamatan secara langsung di remote control drone, mahasiswa juga diajarkan praktek fotogrametri untuk mengolah foto drone dan menganalisisnya serta melakukan pemetaan dari foto drone yang telah diperoleh.

Dari peta analisis kesehatan tanaman kelapa sawit menggunakan indeks NDVI, mahasiswa juga diminta untuk mengecek secara langsung kondisi tanaman yang teridentifikasi dalam kondisi kurang sehat. 

Memanfaatkan aplikasi Avenza Map, mahasiswa akan dinavigasi menuju lokasi tanaman yang kurang sehat untuk kemudian melakukan pengamatan dan analisis kondisi tanaman tersebut apakah terserang hama atau penyakit atau terjadi defisiensi hara atau air. Dengan demikian terjadi integrasi antar kegiatan praktik lapangan mahasiswa. 

"Selain proses budiaya dan mekanisasi yang dilakukan di KP2 SEAT, mahasiswa juga melakukan praktek mengolah TBS kelapa sawit menjadi CPO yang dilakukan di pilot plant kampus INSTIPER," ujar Rektor INSTIPER.

Apalagi, di pilot plant INSTIPER ada mini pabrik kelapa sawit yang dapat melakukan pengolahan CPO secara lengkap mulai dari proses grading, stasiun sterilizer, stasiun thresher, stasiun digester, screw pres, clarifier. 

"Di sana, mahasiswa juga mempraktekkan pengolahan produk turunan kelapa sawit yang lain seperti Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), biodiesel, sabun, lilin, cookies, dan margarin," kata Rektor. 

Deputi Managing Director Karyamas Plantation, Michael Adryanto mengaku senang melihat kegiatan prakrik lapang mahasiswa INSTIPER yang telah menyesuaikan SOP perusahaan kelapa sawit. 

Bahkan, kata Michael, dari pandangan industri, merekrut mahasiswa INSTIPER dapat menghemat waktu 6 bulan jika perusahaan menerima pekerja dari umum.

Sebab, perusahaan harus mengajari fresh graduate bagi pekerja yang belum memahami aspek di industri kelapa sawit. 

"Kami juga sangat senang terlibat dalam kegiatan praktik lapangan ini, sehingga kami bisa memberikan masukan teknis pekerjaan yang ada di kebun maupun di pabrik kelapa sawit," jelasnya.