Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mulai bergerak naik, meski masih tertatih. Pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, harga CPO di Bursa Malaysia menguat terbatas setelah dua hari berturut-turut berada dalam tekanan.
Pasar menilai kenaikan ini lebih bersifat teknis, sembari menunggu arah baru dari Palm Oil Conference (POC) 2026 yang akan digelar di Kuala Lumpur pekan depan.
Mengutip Reuters, kontrak CPO untuk pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik MYR 5 atau 0,12% ke level MYR 4.220 per metrik ton pada jeda perdagangan siang.
Kenaikan ini mengikuti penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian, China, yang kembali memberi sentimen positif bagi pasar sawit global.
Seorang trader minyak sawit di Kuala Lumpur menuturkan, pergerakan harga CPO saat ini masih sangat bergantung pada dinamika pasar minyak nabati regional, khususnya China.
Di saat yang sama, pelaku pasar cenderung menahan posisi dan bersikap wait and see, menanti sinyal kebijakan, proyeksi permintaan, serta arah industri dari forum POC 2026.
Meski menguat, laju kenaikan harga CPO hari ini terbilang terbatas. Salah satu penahannya datang dari penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia, yang terapresiasi sekitar 0,13% terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing, sehingga menekan minat beli di pasar ekspor.
Tekanan juga datang dari pasar minyak kedelai global. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai terpantau melemah 0,18%, memberikan sentimen negatif bagi CPO yang dikenal sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak nabati pesaingnya.
Di sisi lain, sentimen positif mengalir dari India. Impor minyak sawit ke negara tersebut dilaporkan melonjak 51% pada Januari 2026, mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh harga CPO yang lebih kompetitif dibandingkan minyak kedelai, sehingga mendorong para penyuling di India meningkatkan pembelian.
Sejalan dengan itu, kontrak minyak kedelai teraktif di bursa Dalian tercatat naik 0,25%, sementara kontrak minyak sawitnya menguat 0,33%. Pergerakan ini membantu menopang harga CPO, meski belum cukup kuat untuk mendorong reli yang lebih agresif.
Stabilnya harga minyak mentah dunia turut memberikan bantalan tambahan. Harga minyak Brent yang relatif tenang menjaga daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel, terutama di tengah ambisi pemerintah Indonesia untuk melanjutkan program mandatori B40 hingga B50.
Dengan kombinasi sentimen yang saling tarik-menarik, pasar menilai pergerakan CPO dalam jangka pendek masih akan cenderung hati-hati.
Fokus kini tertuju pada POC 2026, yang diharapkan menjadi kompas baru bagi arah harga sawit global, di tengah persaingan ketat minyak nabati dan dinamika ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil.
CPO Bangkit Tipis Setelah Dua Hari Tertekan, Pasar Tunggu Sinyal POC 2026
Diskusi pembaca untuk berita ini