Jakarta, elaeis.co - Asal tahu saja, tahun lalu Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merilis bahwa sepanjang tahun 2000-2019, kehilangan dan pemborosan makanan atau Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia mencapai 23-48 juta ton per tahun.
Angka ini kemudian menciptakan kerugian ekonomi sekitar Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun. Angka ini setara dengan 4 persen hingga 5 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia!
Jelang siang tadi angka-angka ini disodorkan oleh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Sri Lestari dalam webinar pagi ini bertajuk "Produk Sawit untuk Hortikultura - Peningkatan Kemitraan UMKM antar sektor". Elaeis.co ikut dalam webinar itu.
Khusus pada pertanian dan pangan, losses tidak hanya terjadi lantaran produk itu cepat busuk, tapi juga oleh tidak dijalankannya Good Handling Practice, buruknya kualitas penyimpanan, buruknya kualitas pasar, tidak adanya informasi produsen dan konsumen, porsi yang terlalu banyak dan kebiasaan jelek konsumen, teknologi yang terbatas, persaingan pasar, kurang tepatnya teknologi penanganan pasca panen, kurang baiknya infrastruktur dan kurang baiknya pengemasan.
Dari angka losses yang banyak tadi kata Puji, tanaman hortikultura menjadi penyumbang 35 persen. Perikanan 10 persen, peternakan 8 persen, perkebunan 1 persen dan tanaman pangan 44 persen.
Biar losses ini tak terus-terusan membengkaklah kemudian BRIN melakukan sederet riset, termasuklah coating dari turunan minyak sawit tadi.
Baca juga: Turunan Minyak Sawit Sudah Bisa Jadi Pengawet Buah. Ini Buktinya
Khusus coating ini, sebenarnya sudah ada bahannya di pasaran. Tapi bukan berbahan turunan minyak sawit, tapi lilin lebah madu (beeswax), lilin konvensional, dan kitosan (polisakarida berbentuk linier yang terdiri dari monomer N-asetilglukosamin dan D-glukosamin)
Selain itu, ada juga riset yang sedang berjalan seperti perlakuan ozon, perlakuan plasma dingin dan Iradiasi Sinar Gamma.
Teknologi Pengemasan Modified Atmosphere. Packaging (MAP) juga ada. Ini sudah dipakai untuk uji coba ekspor salak ke Malaysia.
"Hasilnya sangat bagus. Yang tadinya kerusakan saat pembongkaran mencapai 70 persen hingga 80 persen, pakai MAP menjadi kurang dari 2 persen," terangnya.
Ethylene Blocker 1- Methylcyclopropene (1-MCP) juga ada. Ini dipakai untuk memperlambat kematangan pisang. Teknologi ini mampu memperpanjang umur simpan pisang Mas Kirana hingga 60 hari.
Dalam Setahun 23-48 Juta Ton Makanan Terbuang Alamaaak...
Diskusi pembaca untuk berita ini