Kampar, elaeis.co - Mahasiswa Politeknik Kampar berhasil memproduksi biodiesel B100 berbahan baku 100 persen Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah melalui kegiatan praktikum di laboratorium.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran berbasis praktik mampu mendorong hilirisasi sawit sekaligus memperkuat pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Dosen Program Studi Teknik Pengolahan Sawit sekaligus Wakil Direktur II Politeknik Kampar, Nur Asma Deli, menjelaskan bahwa praktikum biodiesel telah lama menjadi bagian dari kurikulum, khususnya bagi mahasiswa tingkat dua.

“Praktikum biodiesel ini memang rutin diberikan. Bahkan sejak kampus berdiri pada 2008, kegiatan ini sudah jadi bagian penting dalam pembelajaran,” ujarnya. 

Menurutnya, seluruh proses produksi dilakukan dalam skala laboratorium dengan bahan baku utama CPO. 

Mahasiswa tidak hanya diajarkan membuat biodiesel, tetapi juga menguji kualitas hasil produksinya sesuai standar nasional.

“Setelah biodiesel terbentuk, mahasiswa melakukan pengujian seperti densitas, viskositas, bilangan asam, hingga kadar air sesuai prosedur SNI,” jelasnya.

Dalam praktikum tersebut, mahasiswa mengikuti tahapan ilmiah yang sistematis. 
Proses diawali dengan penyaringan minyak sawit mentah untuk menghilangkan kotoran. Jika kadar asam lemak bebas (FFA) tinggi, dilakukan esterifikasi awal menggunakan katalis asam.

Selanjutnya, minyak direaksikan dengan metanol untuk menurunkan kadar FFA. 

Tahap inti kemudian dilakukan melalui proses transesterifikasi, yakni mengubah trigliserida menjadi biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) serta menghasilkan gliserol sebagai produk samping.

Reaksi ini menggunakan katalis basa seperti NaOH atau KOH. Setelah proses selesai, campuran didiamkan hingga terbentuk dua lapisan, yaitu biodiesel di bagian atas dan gliserol di bagian bawah.

Tahap berikutnya adalah pemisahan dan pencucian biodiesel menggunakan air hangat guna menghilangkan sisa katalis, metanol, dan sabun. 

Proses diakhiri dengan pengeringan melalui pemanasan ringan hingga diperoleh biodiesel B100 yang siap diuji.

“Metode yang digunakan memang masih konvensional, kombinasi katalis asam dan basa. Tapi ini penting untuk memberikan pemahaman dasar yang kuat kepada mahasiswa,” kata Asma.

Ia menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar praktikum biasa. Mahasiswa dilatih memahami proses dari hulu ke hilir sehingga memiliki kesiapan saat terjun ke dunia industri, khususnya sektor pengolahan sawit dan energi terbarukan.

Menurutnya, pengalaman langsung di laboratorium menjadi nilai tambah yang tidak bisa digantikan teori semata. 

Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

“Mahasiswa jadi paham proses nyata produksi biodiesel. Ini penting agar mereka siap masuk industri dan mendukung pengembangan energi berbasis sawit,” ujarnya.

Lebih jauh, inovasi ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong penggunaan bahan bakar nabati untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Ke depan, Politeknik Kampar berharap kegiatan praktikum ini terus berkembang, tidak hanya dalam skala laboratorium, tetapi juga bisa ditingkatkan ke level produksi yang lebih besar.

“Harapannya, lulusan kami bisa menjadi tenaga terampil yang ikut memperkuat ketahanan energi nasional dan menjaga posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia,” pungkasnya.