Pasaman, elaeis.co - Syafrianto, 49, seorang petani sawit yang menetap di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mengaku tak bisa tidur semalaman usai diguncang oleh gempa Mentawai.
"Ambo ndak bisa lalok (saya tak bisa tidur)," ujar pria yang punya dua hektar kebun sawit di daerah tetangga, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), itu kepada elaeis.co, Selasa (25/4).
Menurut Syaf, panggilan akrabnya, gempa yang terjadi pada pukul 03.00 WIB dinihari itu guncangannya hebat sekali. "Kami seisi rumah pada terbangun," ungkapnya.
Trauma dengan guncangan gempa yang begitu kuat, ditambah ketakutan akan terjadinya gempa susulan, membuat Syaf sulit memejamkan mata. "Saya benar-benar tak bisa tidur," tambahnya.
Safridal, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Pasbar, yang dikonfirmasi elaeis.co soal yang sama, belum memberi penjelasan.
"Maaf pak ambo sdg Ado tamu," ungkap Safridal melalui aplikasi WhatsApps, Selasa (25/4).
Seperti diketahui, gempa dengan magnitudo 7,3 mengguncang Kabupaten Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, Selasa (25/4/2023), pukul 03.00 WIB.
Guncangan gempa ini terasa hingga ke Kabupaten Kampar, Riau, yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Mentawai.
Sejumlah warga di Kota Bangkinang, merasakan guncangan gempa tersebut.
Diketahui, gempa dengan kekuatan magnitudo 7,3 mengguncang Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dan sekitarnya, Selasa (25/4/2023), pukul 03.00 WIB.
Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, gempa itu terjadi di 177 kilometer barat laut Mentawai dengan kedalam 84 kilometer.
BMKG juga menyampaikan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami, sehingga warga diminta waspada. Tapi belakangan peringatan potensi tsunami sudah dicabut.
Diguncang Gempa Mentawai, Petani Sawit Ini Mengaku Tidak Bisa Tidur
Diskusi pembaca untuk berita ini