Jakarta, elaeis.co - Transformasi digital di sektor perkebunan kelapa sawit kian menunjukkan dampak nyata di lapangan. Salah satu teknologi yang kini disebut mengubah secara fundamental cara pengelolaan kebun adalah penggunaan drone, baik untuk kegiatan pemupukan, pemetaan, hingga pengamanan areal.

Sejumlah pelaku industri menilai, kehadiran drone tidak lagi sekadar inovasi tambahan, melainkan telah menjadi bagian inti dalam operasional perkebunan modern. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi, akurasi, sekaligus menjawab berbagai tantangan klasik yang selama ini dihadapi sektor sawit.

General Manager Plantation PT Kodeco Agrojaya Mandiri (Johnlin Group), Ilham Siregar, mengatakan penggunaan drone telah membawa perubahan signifikan terutama dalam kegiatan pemupukan di lapangan.

“Drone mengubah cara kita bekerja. Dulu pemupukan di lahan berbukit sangat sulit dan memakan waktu. Sekarang bisa dilakukan lebih cepat, lebih merata, dan dengan risiko yang jauh lebih kecil,” ujar Ilham dalam sebuah forum industri di Jakarta.

Menurutnya, kondisi topografi menjadi salah satu kendala utama dalam pengelolaan kebun sawit. Pada area dengan kontur ekstrem, distribusi pupuk secara manual membutuhkan tenaga besar dan sering kali tidak optimal. Dengan drone, seluruh area dapat dijangkau tanpa perlu membuka akses jalan tambahan.

Selain itu, teknologi navigasi seperti Real-Time Kinematic (RTK) memungkinkan drone bekerja dengan tingkat presisi tinggi. Aplikasi pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tanaman di setiap titik, sehingga penggunaan input menjadi lebih efisien.

“Sekarang kita bicara pemupukan berbasis data. Dosis bisa diatur lebih tepat, tidak lagi disamaratakan,” jelasnya.

Perubahan juga terjadi pada sisi perencanaan operasional. Ilham menjelaskan bahwa setiap kegiatan drone diawali dengan pemetaan digital dan penyusunan flight plan yang detail, mulai dari jalur terbang hingga titik pendaratan.

“Semua sudah terstruktur. Ini membuat pekerjaan lebih sistematis dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Di sisi lain, Direktur PT Biruni Geo Pratama, Muhammad Nashihun, menekankan bahwa transformasi pengelolaan kebun tidak lepas dari peran data spasial yang akurat. Ia menyebut, penggunaan drone harus didukung oleh teknologi GPS geodetik agar menghasilkan data dengan presisi tinggi.

“Drone memang alatnya, tapi yang menentukan kualitas hasil adalah datanya. Dengan GPS geodetik, kita bisa mendapatkan akurasi hingga level sentimeter,” ujarnya.

Menurut Nashihun, data yang akurat menjadi fondasi dalam penerapan berbagai teknologi lanjutan, termasuk kecerdasan buatan (AI). Tanpa data yang presisi, analisis yang dihasilkan juga tidak akan optimal.

Melalui drone mapping, perusahaan dapat memperoleh berbagai jenis data seperti orthomosaic, Digital Surface Model (DSM), hingga Digital Terrain Model (DTM) yang menggambarkan kondisi lahan secara detail.

“Semua ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Mulai dari pemupukan, pembangunan infrastruktur kebun, hingga perencanaan jangka panjang,” jelasnya.

Selain untuk operasional, drone juga dinilai mengubah cara pengamanan perkebunan. Dengan luas lahan yang mencapai jutaan hektare, pengawasan secara manual menjadi tidak efektif.

“Sekarang kita bisa melakukan patroli udara. Drone bisa memantau area rawan, mendeteksi aktivitas mencurigakan, bahkan mengidentifikasi potensi kebakaran lebih dini,” kata Nashihun.

Hal senada disampaikan GM Public Relation PT Tribuana Solusi Inovasi Teknologi, Nicko Arywibowo. Ia melihat penggunaan drone sebagai solusi nyata atas persoalan tenaga kerja yang selama ini menjadi tantangan berulang di sektor perkebunan.

“Setiap tahun perusahaan menghadapi masalah yang sama: kekurangan tenaga kerja. Dengan drone, ketergantungan itu bisa dikurangi secara signifikan,” ujarnya.

Nicko menjelaskan, dalam praktik konvensional, kegiatan seperti penyemprotan membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu yang panjang. Sementara dengan drone, satu unit dapat meng-cover puluhan hektare dalam sehari.

Efisiensi juga terlihat dari penggunaan air dan bahan kimia yang jauh lebih hemat. Hal ini berdampak tidak hanya pada biaya operasional, tetapi juga pada aspek keberlanjutan lingkungan.

“Penggunaan input jadi lebih terkontrol. Ini penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas,” katanya.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa drone saat ini telah berkembang menjadi sistem multifungsi. Selain pemupukan dan penyemprotan, drone juga digunakan untuk monitoring kesehatan tanaman, deteksi hotspot, hingga pengawasan area kebun.

“Drone bukan lagi alat tunggal. Ini bagian dari sistem digital yang terintegrasi,” ujarnya.

Kemampuan drone yang dapat beroperasi di berbagai kondisi, termasuk pada malam hari, semakin memperkuat perannya dalam pengamanan. Dengan dukungan sensor canggih, pengawasan dapat dilakukan secara real-time tanpa harus selalu mengandalkan kehadiran fisik petugas di lapangan.

Digital sisi lain, transformasi yang dibawa drone dinilai menjadi langkah penting menuju konsep perkebunan presisi. Dalam sistem ini, seluruh aktivitas dikelola berdasarkan data yang akurat dan terintegrasi.

Ilham Siregar dari menegaskan bahwa ke depan, pengelolaan kebun sawit akan semakin bergantung pada teknologi. Mulai dari pemetaan, pemupukan, hingga pengamanan akan berjalan dalam satu ekosistem digital.

“Drone hanyalah awal. Ke depan, semua akan terhubung dengan data dan sistem digital yang lebih canggih,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi faktor kunci. Operator drone dituntut memiliki kompetensi teknis sekaligus pemahaman agronomi.

“Teknologi tidak akan optimal tanpa SDM yang siap. Ini yang terus kami dorong melalui pelatihan dan pengembangan,” ujarnya.

Dengan berbagai perubahan yang terjadi, industri sawit Indonesia kini memasuki babak baru dalam pengelolaan perkebunan. Drone tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap operasional kebun secara keseluruhan.