Palangka Raya, elaeis.co - Ekspor dari Provinsi Kalimantan Tengah (kalteng) pada bulan Juli 2024 mengalami penurunan baik secara bulanan maupun secara tahunan.

"Nilai ekspor Kalteng pada Juli 2024 mencapai US$270,89 juta atau turun 22,84 persen dibanding ekspor Juni 2024, dan turun 20,39 persen dibanding ekspor Juli 2023," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Agnes Widiastuti dalam press release dikutip Senin (9/9).

Baca juga: Empat Provinsi di Kalimantan Rutin Ekspor Minyak Sawit, Siapa Paling Banyak?

Menurutnya, komoditas utama ekspor Kalteng selama Juli 2024 adalah batu bara, minyak kelapa sawit, bijih zirconium, niobium dan tantalum, kayu olahan, lignit, karet remah, bijih titanium, dan kayu lapis.

"Jepang, India, dan Korea Selatan, menjadi negara tujuan utama ekspor Kalteng selama Juli 2024," sebutnya.

Dibanding bulan Juni 2024, terjadi penurunan nilai ekspor Kalteng pada seluruh kelompok komoditas kecuali kelompok pakaian jadi bukan rajutan yang mengalami peningkatan sebesar US$0,08 juta. Penurunan terbesar terjadi pada minyak sawit yang masuk kelompok lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$41,88 juta atau turun 65,17 persen. Disusul oleh kelompok bahan bakar mineral sebesar US$24,79 juta atau turun 9,86 persen.

Baca juga: Ekspor Melonjak, Stok Minyak Sawit Indonesia Anjlok

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2023, sejumlah golongan barang juga mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup tinggi. Penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, mencapai US$59,13 juta atau turun 72,54 persen. Kelompok bijih, kerak dan abu logam juga mengalami penurunan nilai ekspor senilai US$4,90 juta atau 37,55 persen.

Sedangkan golongan barang yang mengalami peningkatan yakni kelompok karet dan barang dari karet sebesar US$0,23 juta atau naik 7,49 persen.

Baca juga: B50, Strategi Sediakan Energi Murah dan Kurangi Ketergantungan Terhadap Ekspor

Secara kumulatif, nilai ekspor Kalteng pada Januari-Juli 2024 turun sebesar US$773,70 juta atau 24,18 persen dibanding periode yang sama tahun 2023. Kelompok bahan bakar mineral mendominasi penurunan ini, mencapai US$597,10 juta atau turun 23,47 persen.