Aceh, elaeis.co - Terus merosotnya harga kelapa sawit, khususnya di Aceh berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran. Terutama di sektor perkebunan kelapa sawit.
Pasalnya dengan harga kelapa sawit yang rendah membuat petani atau pengusaha kelapa sawit tidak mampu membayar gaji pekerja di kebun miliknya. Akhirnya petani memutuskan untuk melakukan pengurangan pekerja atau bahkan tidak menggunakan jasa pekerja untuk merawat kebun kelapa sawitnya.
"Kalau harga rendah, aktivitas di kebun kelapa sawit juga cenderung sepi. Sebab petani hanya melakukan perawatan seadanya saja," kata Sekretaris DPW APKASINDO Aceh, Fadhli Ali saat berbincang bersama elaeis.co, Rabu (22/6).
Fadhli sendiri juga melakukan hal yang sama. Saat ini ia hanya mampu memperkerjakan 4 orang pekerja untuk kebun kelapa sawitnya. Padahal jika harga normal, Fadhli bisa memiliki anggota pekerja di atas 6 orang.
Menurutnya sistem gaji dalam perkebunan kelapa sawit tidak dapat ditawar. Seperti misalnya menurunkan gaji dalam kondisi tandan buah segar yang dibeli dengan harga rendah.
"Gak ada ceritanya penurunan gaji. Sebab memang sudah ada patokannya. Makanya petani pasti mengurangi jumlah pekerja. Nah disinilah mulai ada penambahan pengangguran tadi," paparnya.
Terlebih lagi saat ini, harga pupuk juga terus menjulang tinggi. Di provinsi Aceh, kenaikan pupuk terpantau sampai 300%. Sementara harga tandan buah segar malah anjlok sampai 70%.
"Harga pupuk disini pasti lebih tinggi ketimbang daerah lain. Karena terpengaruhi letak geografis yang terletak paling ujung. Sehingga transportasi dan pendistribusian membutuhkan waktu dan biaya yang lebih," ujarnya.
Bagi petani tidak ada cara untuk mensiasati kemahalan pupuk ini. Sebab menggunakan pupuk kandang atau pupuk alami lainnya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebab harga TBS yang rendah tadi.
Akibatnya dalam melakukan perawatan, petani hanya melakukan sebisa dan seadanya saja. "Sudah hilang semangat petani lantaran terus menjadi tumbal. Padahal Devina negara terbesar dari kebun kelapa sawit," terangnya.
Jika sebisa dan seadanya dalam merawat kebun, maka hasil juga tidak akan baik. Jumlah serta kualitasnya pasti akan menurun.
Dari informasi yang didapat Fadhli, saat ini harga pupuk Urea sekitar Rp550 ribu/50kg, Kcl Rp950 ribu/50kg, Tsp Rp900 ribu/50kg, Borax Rp1,5 juta/25kg dan Racun rumput Rp120 ribu/liter.
"Kita berharap pemerintah segera mencari solusi agar kondisi ini tidak berlarut-larut. Seba jika petani sudah putus asa dan membiarkan kebunnya, maka pemerintah akan kesulitan mendapatkan CPO sebagai bahan baku beragam produk," tandasnya.
Harga Sawit Melorot, Potensi Pengangguran Besar
Diskusi pembaca untuk berita ini