Kalteng, elaeis.co - Tim Riset Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta berkolaborasi dengan PT Bumitama Gunajaya Agro mengembangkan inovasi teknologi di sektor perkebunan melalui peluncuran Autonomous Intermittent Fertilizer Spreader, sebuah traktor otonom untuk pemupukan kelapa sawit.
Peluncuran ini dilaksanakan di kebun Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) Region 3, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Sabtu (25/4).
Teknologi ini merupakan hasil kolaborasi tim riset INSTIPER Yogyakarta dan BGA yang dipimpin Rengga Arnalis Renjani dengan dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Grant Riset Sawit (GRS) 2024.
Alat berbasis traktor otonom ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan pemupukan melalui sistem intermittent atau pemberian pupuk secara berselang.
Dengan dukungan navigasi presisi, sensor, dan kecerdasan buatan, alat mampu mendeteksi tanaman sawit dengan akurasi hingga 98 persen sehingga aplikasi pupuk lebih tepat sasaran.
Rengga, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER sekaligus ketua tim menjelaskan, pengembangan teknologi ini merupakan bagian dari upaya mendorong modernisasi sektor perkebunan berbasis riset dan inovasi.
Ia mengatakan, traktor otonom ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi serta ketepatan pemupukan melalui sistem intermittent, yaitu pemberian pupuk secara berselang.
"Ini berbeda dengan traktor spreader pada umumnya yang menyebarkan pupuk sepanjang waktu sehingga bisa saja pupuk jatuh tidak tepat sasaran sehingga mampu mengurangi kehilangan pupuk," ujarnya.
Dalam implementasinya, kata Rengga, alat ini mampu beroperasi secara mandiri mengikuti jalur yang telah diprogram sebelumnya.
Selain itu, pupuk hanya disebarkan tepat di area tanaman, berbeda dengan metode konvensional yang dilakukan secara merata. Hal ini menjadikan penggunaan pupuk lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan agronomis tanaman.
Berdasarkan hasil uji coba lapangan, kapasitas kerja alat mencapai hingga 30 hektar per hari, meningkat signifikan dibandingkan metode manual yang hanya sekitar 2,8 hektar per hari.
"Dari sisi biaya, penggunaan teknologi ini mampu menekan biaya pemupukan dari Rp96.053 menjadi Rp39.500 per hektar, atau terjadi efisiensi hingga sekitar Rp56 ribu per hektar atau 60 persen," terangnya.
Dengan demikian, potensi penghematan dapat mencapai Rp374 juta per tahun, dengan periode balik modal sekitar 1,6 tahun.
Secara teknis, alat ini memiliki kapasitas hopper sebesar 300 kilogram dengan jangkauan sebar pupuk antara 5 hingga 15 meter. Traktor ini juga kompatibel dengan berbagai jenis pupuk, seperti NPK, dolomit, kieserite, dan rock phosphate.
Komite Litbang BPDP, Prof. Didiek Hadjar Goenadi, menilai inovasi ini menjadi langkah penting dalam mendorong mekanisasi di industri sawit nasional.
“Teknologi ini memungkinkan pemupukan lebih presisi dibandingkan cara manual, terutama di tengah kenaikan harga pupuk dan keterbatasan tenaga kerja,” ujarnya.
Dari perspektif industri, BGA menyambut positif penerapan teknologi ini. Project Mechanization Department Head BGA, Yogi Akbar Hermansyah, mengatakan bahwa inovasi tersebut menjadi solusi atas kelemahan metode konvensional yang masih menggunakan pola sebar merata (blanket).
“Dengan sistem autonomous dan pemupukan terarah, efisiensi meningkat sekaligus lebih sesuai dengan kebutuhan agronomis tanaman,” tambahnya.
Menurut Yogi yang juga merupakan anggota tim peneliti, penggunaan teknologi ini juga meningkatkan aspek keselamatan kerja, karena operator tidak berinteraksi langsung dengan pupuk, sehingga resiko paparan bahan kimia dapat ditekan.
"Peluncuran alat ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri dalam mendorong modernisasi serta daya saing sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia,kata Yogi.
INSTIPER dan PT BGA Kembangkan Traktor Pemupukan Sawit, Hematnya Bikin Petani Tersenyum
Diskusi pembaca untuk berita ini