Bengkulu, elaeis.co - Pemerintah Provinsi Bengkulu diminta mengarahkan investor menggarap sektor industri pengolahan kelapa sawit untuk memaksimalkan penyerapan tenaga kerja.
Pengamat Ekonomi Bengkulu, Prof Dr Ahmad Badawi Saluy, mengatakan, kegiatan investasi di Bengkulu belum memberikan efek maksimal terhadap penyerapan tenaga kerja. Buktinya, sepanjang Januari-September 2022 realisasi investasi mencapai Rp 6,1 triliun tapi serapan tenaga kerjanya hanya 15.721 orang.
"Nilai investasi besar, tapi serapan tenaga kerja belum maksimal. Hingga Agustus 2022 lalu masih ada 38.619 orang yang menganggur di Provinsi Bengkulu," kata Ahmad, kemarin.
Dia meminta agar tahun ini pemda tidak sekadar mengejar target nominal investasi, tapi juga perlu mendorong perbaikan kualitas. "Caranya, naikkan porsi investasi pada industri pengolahan. Sektor ini menyerap lebih banyak tenaga kerja," sebutnya.
Ia lalu mencontohkan industri pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi minyak sawit (CPO) yang mampu menyerap hingga ribuan tenaga kerja. "Apalagi kalau ada industri pengolahan CPO menjadi minyak goreng, maka pengangguran di daerah ini akan jauh berkurang," tukasnya.
"Jadi, kalau mau meningkatkan kualitas investasi, maka harus fokus kepada hilirisasi. Kalau hilirisasi berjalan, akan makin banyak industri pengolahan yang berdiri di Bengkulu dan dampaknya akan sangat signifikan ke daerah," tambahnya.
Dia mengakui hilirisasi adalah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi krisis ekonomi global sudah di depan mata. "Kita tahu pandemi Covid-19 belum benar-benar usai dalam konteks pemulihan, muncul pula ketegangan geopolitik, perang Ukraina-Rusia yang mengakibatkan krisis pangan dan energi yang berdampak kemana-mana," ucapnya.
"Agar kegiatan investasi bisa berjalan dengan baik dan lancar, pemerintah harus menjaga stabilitas daerah. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dan investasi juga akan tetap terjaga," tutupnya.
Investor Harus Diarahkan Kembangkan Industri Pengolahan Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini