Palembang, elaeis.co - Sekretaris Apkasindo Sumatera Selatan (Sumsel), M Yunus tidak sependapat jika kebun kelapa sawit yang berada dalam kawasan hutan menjadi penyebab utama lambatnya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun Ia tidak menolak jika hal itu menjadi salah satu faktor tidak tercapainya target PSR.
Menurutnya untuk menilik PSR, perlu melakukan pemandangan yang lebih luas. Sehingga permasalahan yang ada tampak lebih rinci dan dapat menentukan solusi.
"Faktor utama sebenarnya kurangnya sosialisasi langsung ke petani kelapa sawit. Terlebih petani swadaya yang produksi kebunnya rendah karena menggunakan bibit tidak berkualitas dan usia kebun yang sudah tua," ujarnya kepada elaeis.co, Minggu (19/11).
Sebab menurut Yunus saat ini petani lebih membutuhkan orang yang dapat menyakinkan mereka untuk PSR. Mulai dari apa itu PSR, manfaat kegunaan hingga alternatif pengganti penghasilan jika petani ikut program dari BPDPKS itu.
"Mestinya Kementan, Dirjenbun, Disbun mengalokasikan personilnya melakukan penyuluhan ke petani terutama petani swadaya. Nah sekarang mana? Apa mereka punya? Kalau punya apa yang mereka edukasi ke petani? Malah apa mereka itu tau apa itu PSR," cetusnya.
Kenyataannya, lanjut Yunus, realisasi PSR baru 20% dari target nasional. Ini bukti bahwa satgas sawit yang diterjunkan pemerintah juga tidak berjalan maksimal.
"PSR ini sebetulnya tidak sulit, karena sistemnya sudah terbangun. Tapi kenapa capaiannya sedikit ya karena pemilik kebunnya gak mengerti tentang PSR, apa manfaat, kapan harus dilakukan dan sebagainya," terangnya.
Yunus menegaskan pemerintah adalah corong yang harus menyampaikan PSR ini langsung kepada petani. Bukan justru mengandalkan asosiasi kelapa sawit.
"Bentuklah tim penyuluh yang mengerti PSR, terjunkan langsung ditengah petani swadaya apa lagi yang marginal. Penyuluh diberikan fasilitas yang dibutuhkan sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima petani," tandasnya.
Kebun Dalam Kawasan Hutan Bukan Masalah Utama PSR
Diskusi pembaca untuk berita ini