Rengat, elaeis.co - Rata-rata petani mengalami dampak penurunan penghasilan lantaran perkebunan kelapa sawitnya direplanting. Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah menganjurkan kepada pekebun supaya melakukan penanaman campuran (tumpang sari) pada satu areal lahan tanam. 

Dinamika itu tidak terlalu dirasakan petani di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu),Provinsi Riau, sebab mereka punya kebun kelapa sawit cadangan yang dikelola secara mandiri. 

"Ekonomi kami tidak goyang meski tanaman kelapa sawit secara kelompok diremajakan pakai dana Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS)," kata Miswanto kepada elaeis.co, Kamis (2/2).

Miswanto merupakan salah satu anggota KUD Usaha Tani di Desa Air Putih, Kecamatan Lubuk Batu Jaya yang mendapat dana hibah sebesar Rp 30 juta/hektar dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Ada sekitar 364 hektar kelapa sawit telah proses tumbang chipping dan penanaman kembali di tahun 2022 lalu. 

"Situasi areal tanaman baru saat ini tidak ada petani yang lakukan penanaman tumpang sari, jadi bisa disimpulkan bahwa mata pencarian warga tidak terganggu," tambahnya. 

Mantan anggota DPRD Inhu periode 2014-2019 ini berpendapat, komoditas sawit terbukti bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat transmigrasi. " Dulu dipandang sebelah mata, istilahnya 'orang buangan'. Tapi kerja keras orang tua kami telah merubah segalanya. Sekarang petani kelapa sawit tidak lagi dipandang sebelah mata," pungkasnya. 

Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi warga transmigrasi saat ini terbilang bagus berkat hasil penjualan tandan buah segar (TBS) "buah emas".