Bandar Lampung, elaeis.co - Limbah industri pertanian atau agroindustri selama ini hanya dianggap sebagai pencemar lingkungan. Padahal limbah tersebut bisa dikelola menjadi sumber energi baru terbarukan (EBT).

Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Prof Agus Haryanto, mengatakan, aktivitas agroindustri seperti industri kelapa sawit, kilang padi, singkong, dan pabrik tebu, pasti menghasilkan limbah baik cair maupun padat. 

"Limbah itu bisa dikonversi dan dimanfaatkan sebagai sumber EBT,” katanya dalam pernyataan resmi belum lama ini.

Berdasarkan karakteristiknya, menurutnya, limbah agroindustri terdiri dari empat kelompok. Masing-masing yang menghasilkan biomassa padat seperti kayu, jerami, dan rumput; menghasilkan minyak seperti kelapa sawit, kedelai, dan kelapa; menghasilkan pati atau gula seperti tebu, singkong, dan sorgum manis; dan menghasilkan biomassa basah yakni berupa air limbah.

“Budi daya yang paling potensial menghasilkan energi terbarukan adalah pengolahan kelapa sawit, tebu, padi, jagung, dan singkong,” sebutnya.

Pemanfaatan limbah sebagai sumber energi terbarukan sudah mulai banyak dilakukan di industri sawit. Limbah cair diolah menjadi biogas dan disubstritusikan sebagai pengganti bahan bakar di pembangkit listrik. Sedangkan limbah padat dipakai sebagai biomassa untuk co-firing PLTU.

Industri yang mengolah komoditas lain juga sudah banyak yang memanfaatkan biogas sebagai pengganti bahan bakar konvensional. Agus menyebut pabrik pengolahan nenas PT Great Giant Pineapple di Lampung sebagai contoh. "Perusahaan itu sudah pakai biogas lebih dari 10 tahun, masih berjalan dengan baik,” bebernya.

Dia mengakui, karena alasan keekonomian, pemanfaatan limbah agroindustri sejauh ini masih terbatas pada skala industri. Namun dia menolak jika teknologi konversi limbah menjadi EBT menelan investasi yang sangat besar.

"Biasanya dalam tiga tahun modal sudah kembali. Seterusnya tinggal mengambil untung. Pihak perbankan rasanya tidak akan ragu memberikan kredit dengan prospek seperti ini," ujarnya.

Dia berharap pemerintah membuat regulasi yang mengatur pemberian insentif untuk perusahaan yang ikut menurunkan emisi karbon. "Ini akan merangsang minat kalangan industri untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber EBT," tukasnya.