Keunggulan sawit juga terlihat dari efisiensi penggunaan lahan. Proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia pada 2050 diperkirakan meningkat hingga 200 juta ton. 

Jika menggunakan komoditas selain sawit, lahan yang dibutuhkan akan mencapai ratusan juta hektare. Dengan sawit, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi hanya dengan 48 juta hektare, menjadikannya solusi paling efisien dan berkelanjutan.

Musdhalifah bahkan mengajak negara-negara Amerika Latin untuk ikut menanam sawit dan bergabung dalam CPOPC. 

“Kami bisa berbagi pengalaman menanam sawit yang baik. Mereka mengakui kualitas sawit Indonesia paling unggul dan membutuhkan keahlian kita,” ujarnya.

CPOPC menekankan bahwa kampanye negatif bukan cerminan kelemahan sawit, melainkan bentuk kompetisi di pasar global. 

Dengan produktivitas tinggi, efisiensi lahan, dan potensi pasar yang terus meningkat, sawit Indonesia tetap menjadi primadona minyak nabati dunia. 

Upaya edukasi publik dan promosi berbasis fakta serta data ilmiah menjadi kunci untuk menghadapi tekanan internasional sekaligus memperkuat posisi sawit di mata dunia.