Jakarta, elaeis.co - Kalau bulan depan Presiden Jokowi jadi meresmikan pabrik Industrial Palm Oil (IVO) di Musi Banyuasin Sumatera Selatan (Sumsel), berarti gong Energi Terbarukan untuk Ketahanan Energi benar-benar sudah ditabu.
Sebab dengan hadirnya pabrik minyak Crude Palm Oil (CPO) Plus tadi, selangkah lagi Indonesia sudah menghasilkan solar, bensin hingga avtur sendiri. Semuanya berbahan baku minyak kelapa sawit.
Dibilang selangkah lagi lantaran setelah pabrik IVO ini, dibangun lagi pabrik Biohidrokarbon. Di sinilah Katalis Merah Putih hasil inovasi Care Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengurai IVO tadi menjadi bahan bakar yang diinginkan.
Soal ketersediaan katalis merah putih, tak perlu ditanya lagi. Sebab pabriknya sedang dibangun di kawasan Cikampek Jawa Barat. Pemiliknya PT. Katalis Sinergi Indonesia.
Bagi Ketua Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia, Sahat Sinaga, unit pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak IVO itu disebut Traga Oil Mill (TOM).
Ini generasi kedua setelah Palm Oil Mill (POM). TOM lah yang menghasilkan IVO itu untuk diolah di kilang Biohydrocarbon untuk menjadi Bensin Super.
Ongkos membangun TOM ini kata Sahat lebih kecil dari PKS konvensional. Sudah itu, lebih efisien dan ongkos pengolahan TBS nya pun lebih rendah.
"Investasinya 90% dari belanja modal Capital expenditure (Capex) PKS konvensional. Nah, kalau ongkos olah TBS di PKS biasanya berkisar Rp153 per kilogram, di TOM hanya Rp95-Rp110 per kilogram," rinci jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 1973 ini.
Lima tahun lagi kata Sahat, IVO ini sangat dibutuhkan. Kalau misalnya kilang Biohydrocarbon yang ada hanya berkapasitas 2500-3000 barrel IVO per hari, maka di tahun itu, dibutuhkan 158 unit kilang biohydrocarbon untuk memenuhi bauran energi 23% dari kebutuhan bensin.
“Itulah makanya kilang biohydrocarbon ini akan kita bagun di seluruh wilayah Indonesia yang ada kebun kelapa sawit petaninya. Sebab sasaran kita memang petani kelapa sawit,” ujar Sahat.
Misi ini akan jalan terus, sebab selain semuanya asli dalam negeri, sawit rakyat terbeli dan minyak pun lekas terjual lantaran rentang kendalinya yang pendek.
"Biaya distribusi Bensin Biohydrokarbon ini ekonomis. Sebab itu tadi, bikinnya di kabupaten itu, jualnya juga di wilayah itu," katanya.
Menabu Gong Energi Terbarukan
Diskusi pembaca untuk berita ini